Jumat, 30 Oktober 2009

LEBIH DARI SEKEDAR KEHILANGAN LAPTOP

Beberapa minggu yang lalu, laptop saya hilang dengan sangat tragis dan ironis. Sekarang udah ngerelain bener-bener ngerelain laptopnya...

Tapi lebih dari sekedar kehilangan laptop.
Lebih dari setengah hidup saya selama sekitar dua tahun terakhir ada dalam laptop itu. Berhubung saya ga punya PC, ya samuanya bener-bener disimpan di laptop itu.

Saya kehilangan lebih dari sekedar laptop.

Saya kehilangan foto-foto dan video yang katanya adalah bentuk pengabadian moment dan kenangan yang ga bisa terulang.
Saya kehilangan semua file dan data-data baik tugas maupun semua hal yang bersangkutan dengan kampus.
Saya kehilangan berkas-berkas dan hasil magang saya di BBDO.
Saya kehilangan tulisan-tulisan terdahulu saya yang belum sempat saya posting ke blog.
Saya kehilangan data-data Tugas Karya Akhir saya.
Saya kehilangan entry-entry lomba yang pernah saya ikuti.
Saya kehilangan kado ultah handmade untuk Astra.
Saya kehilangan ratusan lagu yang entah butuh waktu berapa lama untuk men-download lagi.

Saya kehilangan memory storage kedua setelah otak saya, yang berisi semua kenangan dan hasil dari kenangan-kenangan tersebut.


SAYA DAN ANAK TUNGGAL

Anak tunggal dengan orang tua tunggal yg sepanjang hidupnya berusaha percaya pada kata-kata orang yang selalu bilang, "enak dong anak tunggal..."

Sepanjang hidup saya sering dihujani dengan kalimat, "oh lo anak tunggal, asik dong?!"
Tapi sepanjang itu juga saya berusaha percaya pada "tuduhan" itu. Dengan kata lain, sebenarnya saya sama sekali tidak pernah meng-iya-kan statement tersebut.

Waktu kecil, seingat saya ada saat-saat dimana saya sendirian di rumah, tidak ada telepon, tidak ada HP, tidak ada anak tetangga yang seumuran saya, dan belum ada internet.
Hanya ada TV dan keadaan itu berlangsung selama kurang lebih 9 jam setiap hari sampai akhirnya ibu saya pulang kantor.

Seingat saya juga, satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk menghibur diri adalah menonton TV. Tapi saya tidak terlalu suka acara TV kebanyakan (kebencian saya pada sinetron sudah tumbuh sejak masih kecil).

Saya sering kehabisan akal bagaimana caranya membuat rasa kesepian itu pergi. Lebih tepatnya, bagaimana membuat saya bisa berbicara dengan orang lain agar tidak merasa sendirian. Akhirnya saya "menciptakan" teman-teman dalam pikiran saya. Sekarang saya sudah tidak ingat lagi siapa nama-nama mereka. Tapi toh mereka pernah ada, setidaknya dalam pikiran saya, untuk membuat saya merasa ada orang yang bisa saya ajak bicara. Saya bicara pada mereka selama berjam-jam, dengan suara, gerakan tangan, dan ekspresi seperti sedang benar-benar bicara pada orang lain.

Mulai sadar bahwa berbicara pada teman-teman imajiner adalah aneh karena berarti saya berbicara sendiri, saya mulai mengurangi interaksi dengan mereka dan membunuh waktu dengan cara yang saya kira paling saya bisa lakukan,... menulis.
Saya menulis puisi. Sebagian besar tentang kesepian. Sebagian lain mempertanyakan kenapa, dan sisanya bercerita tentang perasaan aneh yang dialami seorang gadis kecil saat mulai masuk SMP, seperti suka, kangen, persahabatan, dll.

Saya juga menulis diary. Mengisahkan kejadian sepanjang hari, sepanjang yang bisa saya tulis. Benar-benar setiap hari dan benar-benar detail.


Akhirnya saya menemukan cara yang cukup ampuh untuk mengusir kesepian sekaligus membunuh waktu. Berkhayal.
Saya mengkhayalkan tentang apapun. Berjalan begitu saja, semau saya. Saya punya banyak cerita yang saya pikirkan dalam benak saya, juga banyak versi, dan tentunya banyak genre. Saya bisa menangis berhujan air mata berjam-jam ketika berkhayal tentang hal yang sangat menyedihkan. Fiktif tentunya. Tapi terasa sangat nyata dan jelas terbentuk alur serta tokohnya dalam pikiran saya.

Saya rasa saya mengalami kesepian akut saat seusia itu.


Saya juga tidak pernah percaya pada mitos yang bilang, "anak tunggal minta apa aja pasti dikasi" atau "anak tunggal bisa dapetin semua yang diinginkan" atau "anak tunggal dimanja dlm keluarga".
Karena buat saya, itu sepenuhnya mitos. Mungkin juga pernah menjadi salah satu kisah fiktif dalam dunia khayalan saya.

Semakin dewasa, dunia benar-benar berubah di mata saya.
Saya lupa tepatnya kapan. Tapi saya tahu ada saat dimana saya akhirnya lupa pada teman lama saya, kesepian.
Ada teman-teman baru yang datang menggantikannya. Kesibukan organisasi, cita-cita, tanggung jawab sekolah, tuntutan prestasi, dan pembelajaran diri sendiri.
Ada juga teman-teman baru yang nyata, yang menggantikan teman-teman imajiner.

Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan pengalaman. Saya akhirnya menemukan cara yang paling tepat untuk mengusir kesepian.

BERSYUKUR.

Jumat, 02 Oktober 2009

supir vs pacar

seorang teman lama saya curhat tentang cewenya yang baru minta putus.

saya nanya, "emang dia ngomonya gimana?"
dan teman saya memulai ceritanya, "gini ber......"

S (teman saya) : "kenapa sih yang... emang aku kurang sayang apa sama kamu?"
P (cw-nya) : "harusnya aku sadar kalo kamu ga punya kendaraan pribadi, tapi aku terus-terusan minta kamu jemput aku..."
(saya kira cw ini mulai sadar kalau teman saya terlalu baik buat dia)

S : "terus..."
P : "tapi apa gunanya cowo kalo ga bisa nganter-jemput?"
(apa gunanya supir kalo ada cowo yang nganter-jemput?)

S : "yaudah deh yang... aku mau berubah. aku janji. tapi kita balikan lagi ya. aku beli motor deh abis ini. sabar ya sayang. nunggu ada rezeki."
P : "oh oke... tapi kapan dong beli motornya?"
(buset...)

S : "aku usahain secepetnya. tapi kita balikan kan? aku masih sayang kamu"
P : "aku juga sebenernya masih sayang kamu. asal kamu mau janji bakal jemput aku tiap hari. aku ga minta banyak kok dari kamu. ga usah nganter deh... cukup jemput aja tiap hari"
(astaga...)

disusul dengan puluhan argumentasi berikutnya, akhirnya teman saya gagal memperbaiki hubungan mereka. dan ujung pembicaraan, tampaknya teman saya ingin mengakhirinya dengan ikhlas.

S : "yaudah kalo itu emang mau kamu sayang. semoga kamu dapet cowo yg lebih baik dari aku... yang punya motor dan mobil untuk selalu jemput kamu."
P : "ya ampun sayang... aku ga gitu2 banget kali."
(sedikit punya hati tampaknya...)

P melanjutkan : "ga usah dua2nya. yg penting punya salah satunya aja."
(loh...)

S : "kalo gitu aku kan punya salah satunya. aku punya motor kan 'yang"
P : "kan itu bukan motor kamu. itu motor ayah kamu"
(no comment...)

dan mereka pun putus.

setelah saya kata-katain temen saya dengan serentetan kalimat "bego bgt sih lo jadi cowo!" dan teman saya selalu membalas dengan "gw sayang bgt sama dia, gw yang salah, bla... bla... bla..."

saya akhirnya kasi dia saran...
"lain kali kalo cari majikan yang bener ya..."