kami membentak dan mencaci. kalian bilang itu tradisi.
kalian bilang buat apa tradisi. sudah usang dan harus diganti.
kami hamparkan realita. kalian bilang itu fiksi yang tak nyata.
kalian takut realita. terlalu ingin mengganti cerita.
kalian bersikeras atas nama akademika.
kalian pikir yang kami beri tak punya esensi.
tahukah kalian, wahai para pencari jati diri.
apa yang kalian lihat saat ini adalah jauh berbanding terbalik dari apa yang akan dihadapi nanti?
ini bukan soal tradisi, kawan-kawanku.
ini cerita sampai mati.
kita tidak saling mengenal.
tapi siapapun dari kami, yang kalian temui setelah fase ini.
kami selalu punya satu cerita.
memang bukan teori akademika, apalagi ilmu pasti atau pemikiran kelas dunia.
cerita kami singkat.
terlalu singkat untuk jadi bahan publikasi dalam buku-buku yang kalian baca.
terlalu ringan dibanding prestasi dan pengalaman kalian selama fase ini.
tapi cerita kami punya arti lebih dari sekedar tradisi.
cerita kami seperti tongkat estafet.
bergulir dari waktu ke waktu, generasi ke generasi.
cerita kami menuturkan satu hal pasti.
fraternity.
cerita yang menyatukan generasi.
yang melunturkan tembok-tembok hierarki.
yang selalu membuat tertawa geli setiap kali mengenangnya kembali
kami tidak memberi bekal ilmu, apalagi teori.
kami ini praktisi, bukan akademisi.
carilah itu dalam ruang kelas dan buku referensi.
yang kami beri hanya secuil bekal tentang realita.
setitik lukisan dari dunia kerja yang penuh problema.
yang kami beri hanya cerita.
bawalah itu selama hingga nanti kalian keluar dari fase mahasiswa.
kalian akan mengerti dengan sendirinya.
ini bukan soal tradisi.
ini cerita sampai mati.
.
Selasa, 22 November 2011
Rabu, 02 November 2011
aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan
aku mencintai Paris seperti mencintai hujan.
dan mencintai Paris seperti cinta buta walau sekalipun belum bertatap muka.
aku tidak mengenal Paris atau kota lainnya di Perancis.
tapi cintaku padanya adalah jenis cinta yang sama ketika aku mencintai hujan.
aku bersentuhan dengan titik hujan. aku mengukirnya dalam kata-kata. aku menerka seperti apa bentuknya.
seperti itulah aku pada Paris. meraih kesempatan sedekat mungkin dengannya.
sayangnya aku belum menyentuh Paris.
aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
menyentuh dan menjejalkannya dalam kata-kata.
memahami bentuknya lalu mengambilnya secuil untuk kusempatkan dalam kepala.
menatap dengan mata penuh cinta, kota cinta itu.
aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
dengan pilihan kosakata terbaik yang pernah aku pelajari.
dengan imaginasi luar biasa agar hasilnya punya makna.... dan sempurna.
aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
aku butuh kesempatan.
dan mencintai Paris seperti cinta buta walau sekalipun belum bertatap muka.
aku tidak mengenal Paris atau kota lainnya di Perancis.
tapi cintaku padanya adalah jenis cinta yang sama ketika aku mencintai hujan.
aku bersentuhan dengan titik hujan. aku mengukirnya dalam kata-kata. aku menerka seperti apa bentuknya.
seperti itulah aku pada Paris. meraih kesempatan sedekat mungkin dengannya.
sayangnya aku belum menyentuh Paris.
aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
menyentuh dan menjejalkannya dalam kata-kata.
memahami bentuknya lalu mengambilnya secuil untuk kusempatkan dalam kepala.
menatap dengan mata penuh cinta, kota cinta itu.
aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
dengan pilihan kosakata terbaik yang pernah aku pelajari.
dengan imaginasi luar biasa agar hasilnya punya makna.... dan sempurna.
aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
aku butuh kesempatan.
Langganan:
Komentar (Atom)