Katanya rumah adalah tempat dimana hati kita berada.
Aku punya pengertianku sendiri.
Rumah adalah tempat dimana aku menjadi aku.
Ruang putih yang riuh, deretan meja yang terisi, yang berantakan dan yang rapi, tumpukan kertas dan kursi-kursi berpenghuni...
Itulah rumahku.
Di tempat ini aku menjadi aku.
Dengan berbagai sisi dan pribadi, tapi selalu aku.
Aku yang percaya pada kegilaan hidup, pada mimpi
Aku yang jatuh cinta pada kata-kata
Aku yang pemarah, yang berambisi, yang haus prestasi, sampai aku yang pemalas dan aku yang lalai
Di sini, aku selalu menjadi aku.
Selaput yang melingkari tempat inilah yang membuatnya menjadi serupa rumah.
Suasana.
Atmosfer.
Para penghuninya yang sama gilanya denganku.
Para penghuni yang juga menjadi diri mereka sendiri.
Pertanyaannya adalah...
Ketika tempat ini tidak lagi di sini, masihkan ia menjadi rumah?
Atau ketika para penghuninya memutuskan untuk pergi, apa aku masih bisa menjadi aku?
Pertanyaan selanjutnya...
Kalau ia telah menjadi terlalu dingin untuk sebuah rumah...
Kalau energinya menipis, habis dibawa penghuni yang pergi...
Kalau cahayanya meredup, karena yang tersisa tidak lagi menjadi diri mereka...
Akan menjadi siapakah aku?
Akan menjadi apakah tempat ini, bagiku?