Senin, 23 Juli 2012

Rumah

Katanya rumah adalah tempat dimana hati kita berada. 
Aku punya pengertianku sendiri. 
Rumah adalah tempat dimana aku menjadi aku. 

Ruang putih yang riuh, deretan meja yang terisi, yang berantakan dan yang rapi, tumpukan kertas dan kursi-kursi berpenghuni... Itulah rumahku. 

Di tempat ini aku menjadi aku. 
Dengan berbagai sisi dan pribadi, tapi selalu aku. 
Aku yang percaya pada kegilaan hidup, pada mimpi 
Aku yang jatuh cinta pada kata-kata 
Aku yang pemarah, yang berambisi, yang haus prestasi, sampai aku yang pemalas dan aku yang lalai 

Di sini, aku selalu menjadi aku. 
Selaput yang melingkari tempat inilah yang membuatnya menjadi serupa rumah. 
Suasana. 
Atmosfer. 
Para penghuninya yang sama gilanya denganku. 
Para penghuni yang juga menjadi diri mereka sendiri. 

Pertanyaannya adalah... 
Ketika tempat ini tidak lagi di sini, masihkan ia menjadi rumah? 
Atau ketika para penghuninya memutuskan untuk pergi, apa aku masih bisa menjadi aku? 

Pertanyaan selanjutnya... 
Kalau ia telah menjadi terlalu dingin untuk sebuah rumah... 
Kalau energinya menipis, habis dibawa penghuni yang pergi... 
Kalau cahayanya meredup, karena yang tersisa tidak lagi menjadi diri mereka... 
Akan menjadi siapakah aku? 
Akan menjadi apakah tempat ini, bagiku?

11 tahun

Aku menemukanmu. 
Lucunya, tanpa sedikit pun pernah mencarimu. 

11 tahun lalu, aku pernah menemukanmu. 
Dalam wajah anak-anak... 
Dalam tawa dan tangis yang ringan... yang bahagia dan sedihnya meluap tanpa beban... tanpa tuntutan tanggung jawab yang menahan. 

Dalam bahasa sederhana. Suka. 
Bukan cinta dengan bahasa yang berat. 
Bukan cinta yang merongrong minta pembuktian akurat. 
Bukan janji dan konsekuensi dan komitmen yang adalah milik orang dewasa. 

Aku di masa kecil yang menatapmu dalam sorot mata yang berbeda. 
Entah bagaimana konsep "berbeda" itu muncul. 
Konsep rasa yang sederhana. 
Sesederhana rasa senang saat kebetulan ditempatkan semeja denganmu... 
Sesederhana tulisan polosku tentangmu di buku harian... 
Sesederhana rasa sedih karena tahu harus berpisah denganmu di hari kelulusan. Sesederhana aku suka kamu. 

11 tahun lalu... Begitulah caraku menemukanmu. 

Dan hidup punya arusnya masing-masing bagi mereka yang masih mau melanjutkan perjudian penuh kejutan. 
Arus yang mempertemukanku pada konsep lain yang lebih rumit. 
Arus yang memaksa untuk mengerti rumus dan pelajaran yang lebih gila. 
Dari mulai mengerti sampai tersakiti. 
Dari hampir percaya sampai yakin itu tidak nyata. 
Cinta. 
Konsep suka milik orang dewasa. 

Kamu pun menjalani tempaan yang sama. 
Yang sarat makna... 
Jatuh-bangun untuk tetap percaya ia ada. 

Dan inilah kita... 11 tahun setelahnya. 
Aku menemukanmu lagi. 

Dalam bahasa yang kita sebut cinta. 
Tatapan berisi sakit dan bahagia. 
Melebur antara aneka rasa yang telah kita kecap dalam realita. 

11 tahun. Aku. Kamu. 
Sebuah cerita dimana arus yang berbeda bertemu di persimpangan yang sama. 
Sekedar melihatnya sebagai kebetulan atau memberinya makna, begitulah hidup memberi pilihan. 

Di persimpangan itu kita memilih. 

Memilih untuk percaya, 
Entah pada cinta atau pada kita. 

Tapi kita memilih. Sekali lagi melempar dadu di perjudian penuh kejutan. 

Memilih untuk kamu dan aku... 
Menjadi kita.