Selasa, 21 Juli 2009

kembali...

aku kembali menulis...
seperti dulu saat pena dan kertas menjadi satu-satunya teman...

aku kembali bercerita...
seperti dulu...
hhmmm... aku masih ingat dengan jelas...
saat itu musuhku bernama kesepian...
aku ingat betapa kejamnya dia...
pernah kutulis sebuah cerita tentangnya...
bagaimana ia setiap hari nyaris membunuhku...
bagaimana ia memburuku di tiap inci tempatku berpijak...
aku membencinya lebih dari apapun...
dan aku juga ingat...
saat itu...
hanya pena dan kertas yang sanggup mengusirnya...

aku kembali berpuisi...
seperti dulu ketika aku bertikai dengan diriku sendiri...
dan puisi sering kali jadi pendamainya...

aku kembali menulis...
bukan karena masa-masa itu kembali lagi...
ia sudah jauh pergi...
bukan untuk menepis kesepian sambil berjuang memegang satu pribadi...
bukan karena kesendirian datang lagi...
lalu aku lari menuju khayalan seperti dulu...

aku kembali menulis...
karena dorongan hati yang tak pernah berhenti...

aku kembali menulis...
untuk jalan ke sebuah mimpi...
untuk hidup yang tak pasti...
mungkin untuk sekedar menemani hati...

aku kembali menulis...
untuk diriku yang akhirnya berhasil kutemui...

Rabu, 15 Juli 2009

Neraka di Stalingrad

sebuah buku berjudul "Neraka di Stalingrad"...
berisi runtutan kisah penyerangan Jerman ke Rusia yang didasari pada obsesi Hitler untuk menghancurkan ras-ras yang dianggap rendah. atau lebih tepat, perang melawan Rusia akibat ambisi pribadi Hitler untuk menundukkan Stalin.
Hitler ingin menguasai Stalingrad...
dan para petinggi militer ingin mempersembahkan kota itu sebagai hadiah untuk Hitler.
maka terlaksanalah Operasi Barbarossa.
sebuah awal yang penuh kemenangan ... dengan akhir berupa kehancuran...

terkadang ambisi, selain menjadi pemicu yang luarbiasa, bisa juga menjadi bumerang dan memutarbalikkan kemenangan.

buku itu juga menyisipkan beberapa surat-surat yang ditulis para tentara Jerman saat terkepung di stalingrad, dengan tanpa sedikitpun perintah penyelamatan keluar dari mulut Hitler.

ucapan selamat tinggal pada istri dan keluarga, keluhan tentang keadaan, hujatan untuk Hitler, sampai pertanyaan tentang keberadaan Tuhan menciptakan sebuah nuansa kelam tersendiri dalam setiap suratnya.

saya tertarik pada beberapa quote dari para tentara yang ditulis di surat-surat mereka.

"ketika orang putus asa, hanya kebenaranlah yang akan disampaikannnya."

lalu halaman demi halaman saya baca...

"di darat ada tembakan, meriam, dan mayat berserakan. di langit turun bom dan api. dan hanya Tuhan yang tidak ada disini. kalaupun Tuhan memang ada, tidak di Stalingrad."

"10 tahun yang lalu surat suara masih bisa menyelamatkan kita. sekarang kita harus membayarnya dengan nyawa."

saya belajar bahwa...
sesuatu yang dinamakan ambisi itu seperti sebuah mobil.
pengemudinya harus tahu kapan harus menginjak gas dan kapan harus menginjak rem...