sebuah buku berjudul "Neraka di Stalingrad"...
berisi runtutan kisah penyerangan Jerman ke Rusia yang didasari pada obsesi Hitler untuk menghancurkan ras-ras yang dianggap rendah. atau lebih tepat, perang melawan Rusia akibat ambisi pribadi Hitler untuk menundukkan Stalin.
Hitler ingin menguasai Stalingrad...
dan para petinggi militer ingin mempersembahkan kota itu sebagai hadiah untuk Hitler.
maka terlaksanalah Operasi Barbarossa.
sebuah awal yang penuh kemenangan ... dengan akhir berupa kehancuran...
terkadang ambisi, selain menjadi pemicu yang luarbiasa, bisa juga menjadi bumerang dan memutarbalikkan kemenangan.
buku itu juga menyisipkan beberapa surat-surat yang ditulis para tentara Jerman saat terkepung di stalingrad, dengan tanpa sedikitpun perintah penyelamatan keluar dari mulut Hitler.
ucapan selamat tinggal pada istri dan keluarga, keluhan tentang keadaan, hujatan untuk Hitler, sampai pertanyaan tentang keberadaan Tuhan menciptakan sebuah nuansa kelam tersendiri dalam setiap suratnya.
saya tertarik pada beberapa quote dari para tentara yang ditulis di surat-surat mereka.
"ketika orang putus asa, hanya kebenaranlah yang akan disampaikannnya."
lalu halaman demi halaman saya baca...
"di darat ada tembakan, meriam, dan mayat berserakan. di langit turun bom dan api. dan hanya Tuhan yang tidak ada disini. kalaupun Tuhan memang ada, tidak di Stalingrad."
"10 tahun yang lalu surat suara masih bisa menyelamatkan kita. sekarang kita harus membayarnya dengan nyawa."
saya belajar bahwa...
sesuatu yang dinamakan ambisi itu seperti sebuah mobil.
pengemudinya harus tahu kapan harus menginjak gas dan kapan harus menginjak rem...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar