Selasa, 22 November 2011

Bukan soal tradisi. ini cerita sampai mati.

kami membentak dan mencaci. kalian bilang itu tradisi.
kalian bilang buat apa tradisi. sudah usang dan harus diganti.

kami hamparkan realita. kalian bilang itu fiksi yang tak nyata.
kalian takut realita. terlalu ingin mengganti cerita.


kalian bersikeras atas nama akademika.
kalian pikir yang kami beri tak punya esensi.

tahukah kalian, wahai para pencari jati diri.
apa yang kalian lihat saat ini adalah jauh berbanding terbalik dari apa yang akan dihadapi nanti?


ini bukan soal tradisi, kawan-kawanku.
ini cerita sampai mati.

kita tidak saling mengenal.
tapi siapapun dari kami, yang kalian temui setelah fase ini.
kami selalu punya satu cerita.
memang bukan teori akademika, apalagi ilmu pasti atau pemikiran kelas dunia.


cerita kami singkat.
terlalu singkat untuk jadi bahan publikasi dalam buku-buku yang kalian baca.
terlalu ringan dibanding prestasi dan pengalaman kalian selama fase ini.


tapi cerita kami punya arti lebih dari sekedar tradisi.
cerita kami seperti tongkat estafet.
bergulir dari waktu ke waktu, generasi ke generasi.


cerita kami menuturkan satu hal pasti.
fraternity.


cerita yang menyatukan generasi.
yang melunturkan tembok-tembok hierarki.
yang selalu membuat tertawa geli setiap kali mengenangnya kembali

kami tidak memberi bekal ilmu, apalagi teori.
kami ini praktisi, bukan akademisi.
carilah itu dalam ruang kelas dan buku referensi.

yang kami beri hanya secuil bekal tentang realita.
setitik lukisan dari dunia kerja yang penuh problema.


yang kami beri hanya cerita.
bawalah itu selama hingga nanti kalian keluar dari fase mahasiswa.
kalian akan mengerti dengan sendirinya.

ini bukan soal tradisi.
ini cerita sampai mati.
.

Rabu, 02 November 2011

aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan

aku mencintai Paris seperti mencintai hujan.
dan mencintai Paris seperti cinta buta walau sekalipun belum bertatap muka.
aku tidak mengenal Paris atau kota lainnya di Perancis.
tapi cintaku padanya adalah jenis cinta yang sama ketika aku mencintai hujan.
aku bersentuhan dengan titik hujan. aku mengukirnya dalam kata-kata. aku menerka seperti apa bentuknya.
seperti itulah aku pada Paris. meraih kesempatan sedekat mungkin dengannya. 
sayangnya aku belum menyentuh Paris.


aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.


menyentuh dan menjejalkannya dalam kata-kata.
memahami bentuknya lalu mengambilnya secuil untuk kusempatkan dalam kepala.
menatap dengan mata penuh cinta, kota cinta itu.


aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
dengan pilihan kosakata terbaik yang pernah aku pelajari.
dengan imaginasi luar biasa agar hasilnya punya makna.... dan sempurna.


aku ingin mengukir Paris seperti mengukir hujan.
aku butuh kesempatan.



Senin, 24 Oktober 2011

ujung pensil yang belum tumpul

huruf, kata, kalimat...berbaur.
itulah saat dimana kamu bisa menemukan aku.

makna, cerita, kronologis, sejarah... bersisihan.
itulah sebuah titik dimana kamu menemukan pintu menuju duniaku.

masuk dan carilah aku.

kamu bisa melihatku di taman mimpiku.
tapi jangan heran jika mungkin...
kamu menemukanku dalam goa lembab berisi penat...
atau padang pasir kering yang kusebut lelah...
atau bahkan ujung jurang gelap bernama putus asa.

jangan menyerah...
tetaplah cari aku.


di taman mimpi, kalau mungkin kamu temukan aku di sana...
tersenyumlah untukku. aku tahu kamu di situ.


di padang gersang, di gelap malam, di bukit terjal...
bahkan ketika semuanya terlalu gelap untukku... dan untukmu... jangan berhenti mencariku.
aku tahu kamu di situ.

ketika matahari kembali dan hujan lembut memberi arti...

aku akan berada tepat di hadapanmu...
tepat saat kamu cukup yakin untuk membuka matamu...


kamu tidak mengerti duniaku.
tidak akan pernah.
tapi aku butuh kamu masuk dan menemukanku di sana.
sekedar ada dan meyakinkanku...


kalau ujung pensilku belum tumpul.
paling tidak...
belum cukup tumpul untuk menyerah.

Minggu, 23 Oktober 2011

Biru Pekat

Hari ini aku lihat dia dengan biru pekat 
Semacam kode bahwa harinya akan padat
tapi aku tau dia pasti bisa.
Bagiku dia hebat.

Dalam siluetnya yang berjalan cepat...
Dalam kertas dan tinta...
Dalam pantulan raut muka dari kacamatanya
Dalam biru pekat...
Dalam bauran warna-warna sekitarnya...
Aku selipkan sebentuk doa untuk suksesnya hari ini.


Godspeed baby pesut.

Selasa, 18 Oktober 2011

penat.

minggu-minggu yang padat. 
garis mati yang terlalu cepat. 
otak yang mulai terhambat. 
jadwal pertemuan yang rapat.
ide yang tersumbat.
waktu yang saling berkejaran dalam tenggak waktu yang tidak tepat.
momen yang terlewat.
bersamamu yang mulai tidak sempat.
jiwa, pikiran, hati, keseharian yang saling menggugat.


penat.

Rabu, 05 Oktober 2011

22

22 untuk kamu.

2 angka bertemu, genap harimu.

22 adalah tentang kamu.

Tentang kumpulan janji dan mimpi yang kubagi denganmu.

Adalah lemari arsip berisi tawa lepas dan tangis pedih soal kamu.

Adalah kesenangan, beban dan tekanan pekerjaan yang saling beririsan denganmu.

Tentang sayuran, nasi goreng kambing dan potongan apel.

Tentang kue dan lilin dan kejutan dan orang-orang dalam hidupmu.

Adalah jalan raya gatot subroto sampai cikoko.

Adalah tanganmu, tanganku, matamu, mataku, senyummu, senyumku yang saling tertuju.

Adalah kampus, kantor, Perancis, bioskop, kubikel, motor, BBM, iPod dan aku...
yang bersisihan mengisi bagian kecil waktu 22 tahunmu.

Adalah pelukan, keluhan, cemburu, lelah, tangis, bentakanku dan tatapan marahmu.

Tentang keheningan antara kamu dan aku yang berarti sesuatu dan hanya kita yang tahu.

Tentang terigu, mentega, cokelat, kompor yang disulap menjadi pancake.

Adalah pencapaian dan kegagalan yang bergulir membentuk kamu dan aku.

22 adalah cerita kamu, aku dan entah apa yg akan hidup tawarkan untuk mengisi angka selanjutnya.
23, 24, 25 dan terus dimana kamu dan aku menjelma waktu.

Sampai saat dimana, bahkan kamu atau aku, bahkan kita tidak cukup layak untuk memilih.
Sampai aku siap hancur lagi. Sampai kamu sadar saatnya hancur.

Senin, 16 Mei 2011

Kartu Lentera

mengapakah kamu bungkam, tuan serba bisa?
yang menanti sekian lama...
yang menapakkan langkah pada ujung hati si wanita tanpa nama

lentera...
aku butuh lentera...

kartu lentera...
dia yang bilang aku butuh lentera...

kejelasan dan kepastian cuma isyarat
ini bukan soal lentera

ini soal siapa yang menang?
pertandinganku begitu rumit, tuan serba bisa.
kamu menyulut perang saudara.
sekarang hati dan logikaku saling mengelabui.
saling membunuh demi eksistensi.

eksistensi dimana?
di dunia nyata?
di kepala?

coba tanya lentera.

kalau-kalau lentera tahu...
apa yang sebenarnya mereka mau

mungkin lentera tahu, salah satu memang harus mati.
bunuh hatiku, tuan serba bisa...
tapi sisakan logikaku

jangan bungkam, tuan serba bisa.
hancurkan hatiku.
dengan begitu logikaku akan menang.

kartu lentera...
bilang pada tuan serba bisa...
ini bukan soal lentera..
ini soal dia.


Selasa, 01 Maret 2011

Lampu dari gedung seberang

gedung di seberang sana menyala terang...
lampu di beberapa lantai yang menandakan kehidupan...
konsekuensi atas nama eksistensi ibukota...

kalian yang di seberang sana...
apa kabar?
masih memutar roda kehidupan?
kalian yang di depan komputer, yang mendengarkan musik agar tetap waras...
kalian yang terengah-engah didera waktu dan tuntutan zaman...

bagaimana kehidupan?
masihkan melelahkan?
bagaimana pilihan?
masihkan menyenangkan?
bagaimana uang, bagaimana tahta, bagaimana kenyamanan?
masihkan memuaskan?

lampu-lampu menyala dari gedung seberang...
mari berbagi cerita...

adakah kesedihan di sela-sela derak keyboard komputer?
adakah air mata di antara dering telepon?
adakah cemburu di selipan tumpukan dokumen?
adakah tersisip cinta di kepala penuh inspirasi yang mengisi kursi-kursi ruang rapat?

dengarlah suara angin pantai di antara ketukan hak sepatu di lorong gedung...
pejamkan mata dan rasakan aroma gunung di tengah kebisingan mesin fotokopi...
carilah jiwamu, mungkin dia hilang di antara serentetan jadwal pertemuan dan presentasi...
temukan hatimu, dia sekarat terjepit kerja keras atas nama prestasi...

lampu-lampu di gedung seberang...
mari bertegur sapa...
siapakah di sana?

Kamis, 03 Februari 2011

Bentuk Hujan

Bentuknya hati, kata seorang pejalan kaki.
Bentuknya serpihan, kata yang sedang patah hati.
Bentuknya pisau, kata dia yang ingin bunuh diri.

Hujan bermain lagi.
Ia buat genangan, supaya kamu yang lewat, bisa lihat lebih lekat.

Hujan makin menjadi.
Ia buat refleksi.
Kebetulan kamu lewat.
Kebetulan kamu sedang membungkam perasaan.
Hujan tahu.
Maka hujan akan menggambar sesuatu...
Ia membuatmu malu, Ia menebak hatimu.

Kamu bohong pada hujan.
Kamu bilang dia romantis.
Tapi hujan tahu...
Romantis bagimu hanyalah kontemplasi dari serpihan kerapuhan, yang kamu kira kristal kebahagiaan.

Kamu bilang bentuknya sendu.
Dan detak-detak hujan itu memberimu isyarat...
bahwa sendu bagimu adalah ketika kamu selesai memupuk kesepian dan bangkit dengan kedok kemandirian.

Bentuknya bulat, kata seorang anak.
Bentuknya mirip air mata, kata ibunya.
Bentuknya cantik, kata sang suami dengan sebelah mata tertuju pada wanita di seberang sana.

Apa bentuknya?
Tanyaku, mencoba mengelabui hujan.