Senin, 24 Oktober 2011

ujung pensil yang belum tumpul

huruf, kata, kalimat...berbaur.
itulah saat dimana kamu bisa menemukan aku.

makna, cerita, kronologis, sejarah... bersisihan.
itulah sebuah titik dimana kamu menemukan pintu menuju duniaku.

masuk dan carilah aku.

kamu bisa melihatku di taman mimpiku.
tapi jangan heran jika mungkin...
kamu menemukanku dalam goa lembab berisi penat...
atau padang pasir kering yang kusebut lelah...
atau bahkan ujung jurang gelap bernama putus asa.

jangan menyerah...
tetaplah cari aku.


di taman mimpi, kalau mungkin kamu temukan aku di sana...
tersenyumlah untukku. aku tahu kamu di situ.


di padang gersang, di gelap malam, di bukit terjal...
bahkan ketika semuanya terlalu gelap untukku... dan untukmu... jangan berhenti mencariku.
aku tahu kamu di situ.

ketika matahari kembali dan hujan lembut memberi arti...

aku akan berada tepat di hadapanmu...
tepat saat kamu cukup yakin untuk membuka matamu...


kamu tidak mengerti duniaku.
tidak akan pernah.
tapi aku butuh kamu masuk dan menemukanku di sana.
sekedar ada dan meyakinkanku...


kalau ujung pensilku belum tumpul.
paling tidak...
belum cukup tumpul untuk menyerah.

Minggu, 23 Oktober 2011

Biru Pekat

Hari ini aku lihat dia dengan biru pekat 
Semacam kode bahwa harinya akan padat
tapi aku tau dia pasti bisa.
Bagiku dia hebat.

Dalam siluetnya yang berjalan cepat...
Dalam kertas dan tinta...
Dalam pantulan raut muka dari kacamatanya
Dalam biru pekat...
Dalam bauran warna-warna sekitarnya...
Aku selipkan sebentuk doa untuk suksesnya hari ini.


Godspeed baby pesut.

Selasa, 18 Oktober 2011

penat.

minggu-minggu yang padat. 
garis mati yang terlalu cepat. 
otak yang mulai terhambat. 
jadwal pertemuan yang rapat.
ide yang tersumbat.
waktu yang saling berkejaran dalam tenggak waktu yang tidak tepat.
momen yang terlewat.
bersamamu yang mulai tidak sempat.
jiwa, pikiran, hati, keseharian yang saling menggugat.


penat.

Rabu, 05 Oktober 2011

22

22 untuk kamu.

2 angka bertemu, genap harimu.

22 adalah tentang kamu.

Tentang kumpulan janji dan mimpi yang kubagi denganmu.

Adalah lemari arsip berisi tawa lepas dan tangis pedih soal kamu.

Adalah kesenangan, beban dan tekanan pekerjaan yang saling beririsan denganmu.

Tentang sayuran, nasi goreng kambing dan potongan apel.

Tentang kue dan lilin dan kejutan dan orang-orang dalam hidupmu.

Adalah jalan raya gatot subroto sampai cikoko.

Adalah tanganmu, tanganku, matamu, mataku, senyummu, senyumku yang saling tertuju.

Adalah kampus, kantor, Perancis, bioskop, kubikel, motor, BBM, iPod dan aku...
yang bersisihan mengisi bagian kecil waktu 22 tahunmu.

Adalah pelukan, keluhan, cemburu, lelah, tangis, bentakanku dan tatapan marahmu.

Tentang keheningan antara kamu dan aku yang berarti sesuatu dan hanya kita yang tahu.

Tentang terigu, mentega, cokelat, kompor yang disulap menjadi pancake.

Adalah pencapaian dan kegagalan yang bergulir membentuk kamu dan aku.

22 adalah cerita kamu, aku dan entah apa yg akan hidup tawarkan untuk mengisi angka selanjutnya.
23, 24, 25 dan terus dimana kamu dan aku menjelma waktu.

Sampai saat dimana, bahkan kamu atau aku, bahkan kita tidak cukup layak untuk memilih.
Sampai aku siap hancur lagi. Sampai kamu sadar saatnya hancur.