di zona nyaman ini aku menerawang.
betapa tidak pastinya dunia di luar sana.
katanya hidup penuh tanda.
kalau memang tanda itu nyata dan aku benar saat menafsirkannya...
satu pertanyaan untuk alam semesta: Apa?
Sekalipun kenaifan akan selalu membawaku pada "Kenapa?"
dalam langkah gontai, jangankan aku berlari, berjalan saja ragu.
jangan-jangan aku bahkan hanya membatu.
tapi kalau memang tanda itu pasti dan bisa dimengerti...
alam semesta sedang mendorongku sedemikian rupa sehingga aku gerah berada di sini.
di tempat paling nyaman, tempatku nyaris berhenti.
dia atau Dia atau alam semesta berteriak.
"Keluar!", kata mereka.
sungguh, hampir pasti itu yang kudengar.
lewat apapun mereka telah memaksaku keluar dari zona ini.
aku dihantui, lebih menggetarkan dari ketidakpastian.
tergesa-gesa dan seperti dari segala arah.
"Keluar!" seolah ada di tiap kata aku membaca.
"Keluar!" seperti nyata pada apa yang kulihat.
"Keluar!"
"Keluar!"
"Keluar!"
alam semesta berteriak, mendesak.
Kalau benar ini tanda...
aku tersenyum, seperti biasanya.
dan alam semesta pun tahu apa jawabku selanjutnya.
Kamis, 24 Mei 2012
Selasa, 22 Mei 2012
Berpikir tentang Pikiran
Hari ini saya dedikasikan untuk sebuah kegiatan yang saya sebut berpikir.
Tapi bukankah setiap hari kita pun berpikir?
Konon katanya, pikiran adalah entitas hampir pasti yang menyatakan sesuatu itu manusia atau bukan.
Saya berpikir. Setiap hasta hidup saya, saya berpikir.
Tapi hari ini, kekuatan tanpa definisi yang disebut alam semesta menuntun saya untuk berpikir tentang pikiran itu sendiri.
Di tengah padatnya garis mati dan tuntutan arus uang dalam sekrup ekonomi yang saya gerakkan.
Atas nama profesi sekaligus hobi yang mengalir pada persendian jari-jari, setiap hari.
Saya mencari inspirasi.
Di tengah pencarian, saya terdampar di sebuah blog milik seorang teman.
Sesuatu dalam aliran pikirannya telah menghasilkan tulisan yang entah bagaimana menabrak realitas saya.
Tulisannya menyeret saya dari suatu tempat tanpa gravitasi dalam pikiran saya, kembali ke tanah, ke bumi tempat pikiran itu berdiri pasti.
Dan inilah saya, sesaat setelah dibenamkan dengan cukup menyakitkan ke dalam pikiran saya sendiri.
Sadar atau tidak, goncangan dan rasa kehilangan beberapa saat lalu telah membuat saya kehilangan pikiran.
Lupa bahwa ia punya tempatnya sendiri.
Lupa bahwa ia jelas-jelas bukan hati.
Lupa bahwa dia bisa saja mati, bahkan saat raga belum mati.
Lupa, dimana saya meletakannya.
Dan inilah saya. Hampir pasti sedang memikirkan pikiran.
Kenapa harus saya biarkan dia ada di neraka kalau saya bisa memilih untuk menempatkannya di surga?
Toh dia punya tempatnya sendiri.
Cuma sang empunya pikiran yang bisa menentukan dia ada dimana.
Langganan:
Komentar (Atom)