Hari ini saya dedikasikan untuk sebuah kegiatan yang saya sebut berpikir.
Tapi bukankah setiap hari kita pun berpikir?
Konon katanya, pikiran adalah entitas hampir pasti yang menyatakan sesuatu itu manusia atau bukan.
Saya berpikir. Setiap hasta hidup saya, saya berpikir.
Tapi hari ini, kekuatan tanpa definisi yang disebut alam semesta menuntun saya untuk berpikir tentang pikiran itu sendiri.
Di tengah padatnya garis mati dan tuntutan arus uang dalam sekrup ekonomi yang saya gerakkan.
Atas nama profesi sekaligus hobi yang mengalir pada persendian jari-jari, setiap hari.
Saya mencari inspirasi.
Di tengah pencarian, saya terdampar di sebuah blog milik seorang teman.
Sesuatu dalam aliran pikirannya telah menghasilkan tulisan yang entah bagaimana menabrak realitas saya.
Tulisannya menyeret saya dari suatu tempat tanpa gravitasi dalam pikiran saya, kembali ke tanah, ke bumi tempat pikiran itu berdiri pasti.
Dan inilah saya, sesaat setelah dibenamkan dengan cukup menyakitkan ke dalam pikiran saya sendiri.
Sadar atau tidak, goncangan dan rasa kehilangan beberapa saat lalu telah membuat saya kehilangan pikiran.
Lupa bahwa ia punya tempatnya sendiri.
Lupa bahwa ia jelas-jelas bukan hati.
Lupa bahwa dia bisa saja mati, bahkan saat raga belum mati.
Lupa, dimana saya meletakannya.
Dan inilah saya. Hampir pasti sedang memikirkan pikiran.
Kenapa harus saya biarkan dia ada di neraka kalau saya bisa memilih untuk menempatkannya di surga?
Toh dia punya tempatnya sendiri.
Cuma sang empunya pikiran yang bisa menentukan dia ada dimana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar