Tik tok tik tok...
Jam bergerak, waktu berlari...
Hari-hari lewat, bulan, tahun berdesak-desakan saling mendahului.

Dan sampailah saya akhirnya di sini.
Diharapkan atau tidak...
Ditunggu atau tidak
Senang, takut, ragu...
Titik dimana saya dituntut untuk berpikir ulang.
Tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Tentang waktu-waktu yang terjadi dan tak bisa kembali.
Juga tentang yang belum terjadi, yang akan terjadi.
Cita dan tujuan yang pernah tertulis di pikiran...
Yang sempat jadi janji, jadi sumpah untuk diri sendiri...
Dan sampailah saya di sini.
Di titik ini semua terhampar.
Yang lalu dan yang usai.
Yang diharapkan dan yang dinanti.
Terhampar di menjelang 25 ini.
Terhampar dan sayangnya tak bisa lagi disusun untuk digapai satu-satu.
Terhampar dan harus dipilih.
Dan keputusan besar yang harus saya ambil setelah ini hanya bisa membawa saya ke satu saja.
Sayangnya iya.
Takut.
Untuk pertama kalinya saya begitu takut.
Takut kehilangan sisanya.
Takut jadi begitu realistis.
Seumur hidup saya mati-matian jadi manusia realistis.
Jadi makhluk logis.
Bertahun-tahun saya mendorong diri saya untuk jangan takut pada risiko.
Risiko adalah takdir.
Dan manusia lahir untuk menjalani takdir.
Sepanjang perjalanan umur sampai menjelang 25...
Saya menjadi jenis spesies yang tahu benar apa yang saya mau.
Tapi di titik ini, saya berubah jadi manusia linglung.

Dan inilah saya.
Menjelang 25.
Berpikir tentang apa dan bagaimana.
Harus apa.
Mau apa.
Lalu apa?
- Posted using BlogPress from my iPad