Selasa, 11 September 2012

...then choose...

Choices...
Things that always there during your days, during your life.
Then choose!




Sadly you can't have it all.
So choose!

In fact that we're human and we have no privilege to run or even hide from those options.
Choose!

In the end, you won't regret anything...
Because everything has been written down by The Almighty Hand.
Even your choice, also has been written.

Then choose!
Whatever it is.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 05 September 2012

Aliranku fiksi




Aliranku fiksi.
Tak peduli tak nyata.
Tak peduli tak sarat makna.

Aliranku fiksi.
Hidup dalam abu-abu imajinasi...
Berkutat berkelebat di bayangan tidak pasti.

Tapi aliranku memang fiksi.
Dimana mimpi adalah bahan bakar pemutar pita cerita.
Melumat-lumat realita...
Dan tokoh-tokoh di dalamnya lupa eksistensi dirinya.
Sampai tinggal cerita.
Sampai tinggal alur dan kronologis yang diatur sedemikian rupa sehingga.

Begitulah aliranku fiksi.
Tanda tanya.
Tapi semua gambar yang tercipta di dalamnya jauh lebih nyata dari realita.







- Posted using BlogPress from my iPad

Menjelang 25

Tik tok tik tok...
Jam bergerak, waktu berlari...
Hari-hari lewat, bulan, tahun berdesak-desakan saling mendahului.





Dan sampailah saya akhirnya di sini.
Diharapkan atau tidak...
Ditunggu atau tidak
Senang, takut, ragu...
Titik dimana saya dituntut untuk berpikir ulang.

Tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Tentang waktu-waktu yang terjadi dan tak bisa kembali.
Juga tentang yang belum terjadi, yang akan terjadi.

Cita dan tujuan yang pernah tertulis di pikiran...
Yang sempat jadi janji, jadi sumpah untuk diri sendiri...

Dan sampailah saya di sini.
Di titik ini semua terhampar.
Yang lalu dan yang usai.
Yang diharapkan dan yang dinanti.

Terhampar di menjelang 25 ini.
Terhampar dan sayangnya tak bisa lagi disusun untuk digapai satu-satu.
Terhampar dan harus dipilih.

Dan keputusan besar yang harus saya ambil setelah ini hanya bisa membawa saya ke satu saja.
Sayangnya iya.

Takut.
Untuk pertama kalinya saya begitu takut.

Takut kehilangan sisanya.
Takut jadi begitu realistis.

Seumur hidup saya mati-matian jadi manusia realistis.
Jadi makhluk logis.
Bertahun-tahun saya mendorong diri saya untuk jangan takut pada risiko.
Risiko adalah takdir.
Dan manusia lahir untuk menjalani takdir.

Sepanjang perjalanan umur sampai menjelang 25...
Saya menjadi jenis spesies yang tahu benar apa yang saya mau.
Tapi di titik ini, saya berubah jadi manusia linglung.





Dan inilah saya.
Menjelang 25.
Berpikir tentang apa dan bagaimana.
Harus apa.
Mau apa.
Lalu apa?



- Posted using BlogPress from my iPad

Senin, 03 September 2012

Rumah (lagi)

Aku ingin memilikinya.
Satu saja.
Sebuah bangunan.
Sebuah tempat dimana keluarga bermula, katanya.

Denganmu aku bermimpi.
Berharap suatu hari bisa memiliki.
Satu saja.
Yang punya kita.

Denganmu aku belajar.
Apa itu realisasi.
Apa itu usaha setengah mati.
Untuk punya satu saja.
Satu yang milik kita.

Denganmu, kita membicarakannya berkali-kali.
Tak bosan, tak lelah, tak berhenti.
Sampai kita punya satu.
Satu yang adalah hasil dari gumpalan mimpi.

Denganmu, kita berputar-putar mencari.
Satu saja.
Satu yang kira-kira bisa kita miliki, suatu hari nanti.

Denganmu, kita melihat, membaca, membuka, menelaah.
Berjalan, berlari, berputar arah.
Berdoa agar tidak menyerah.
Susah.
Tapi ya memang beginilah.

Rumah.

Denganmu, kita bermimpi tentang rumah.







- Posted using BlogPress from my iPad