Hari ini jari saya membawa saya ke sebuah cerita.
Menjelajah dalam layar hitam dengan kekuatan koneksi ke seluruh penjuru dunia.
Ketik "kerusakan hutan Indonesia"
Klik "search"
Rentetan gambar yang memilukan. Mengerikan.
Kesekian "open new tab" membawa saya pada http://www.greenpeace.org/seasia/id/
Manusia. Sulit dipercaya mereka melakukan ini.
Ikuti perjalanan mereka. Pelajari kehancuran hutan dan tatap lekat-lekat setiap gambar yang diabadikan.
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/Hasil-Temuan-Perjalanan-Tim-Mata-Harimau/
Di depan gambar-gambar itu saya bertanya pada diri saya. Manusia.
Terheran-heran pada manusia.
Kita sedang merancang kiamat kita sendiri.
Bumi kian hari kian panas. Apa kita tidak sadar itu?
Banyak hewan terancam punah. Ah kita juga tidak peduli.
Bencana alam berkali-kali memperingatkan. Dan kita salahkan pemerintah, agama, alam lalu mulai tersungkur meminta ampun dosa.
Memang kalau bukan di bumi, kita mau tinggal dimana?
Mencoba menyelami pikiran mereka di sana. Yang entah atas nama apa melupakan entitas kita sebagai manusia.
Atas nama uang? Ya sepertinya.
Konversi hutan menjadi kebun oleh perusahaan kelapa sawit.
Pembabatan hutan oleh perusahaan kertas.
Apa jangan-jangan atas nama kita sendiri?
Permintaan kertas di pasaran meningkat. Kita kan yang pakai kertas seenaknya. Kita kan yang pakai tissue banyak-banyak. Iya...kita.
Hasil kelapa sawit juga kita yang beli, kita yang konsumsi.
Nanti kalau semuanya sudah habis dibabat.
Sudah tak ada hutan untuk resapan air.
Sudah tak ada pohon penangkal polusi.
Hewan-hewan mati.
Rantai makanan berjalan tidak seharusnya.
Bencana alam memporak-porandakan tempat tinggal.
Baru kita sujud dan menitikkan air mata.
Ya itulah kita. Manusia.
Saya tidak menghakimi. Toh saya juga manusia.
Tapi saya yakin...
Kita benar-benar sedang menuliskan cerita tentang kehancuran, yang kita buat sendiri alurnya dan tentukan sendiri sebab-akibatnya.
Iya...kita. Manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar