Jumat, 12 Juni 2009

seorang supir taksi bergelar sarjana ekonomi

suatu malam setelah saya dan teman saya lembur, kami memesan taksi untuk pulang.
supir taksi yang kami pesan segera menghampiri ketika kami mendekat ke taksinya yang parkir di depan kantor.
supir tersebut mempersilahkan kami masuk dengan sikap ramah yang tidak seperti supir taksi pada umumnya.
pak supir membuka percakapan dengan bertanya, "mau kemana dek?"
"depok pak." jawab saya.
saya melirik ke ID card di dashboard depan untuk mencatat nama dan nomer taksi sebagai prosedur pengisian voucher taksi.
saya lupa siapa tepatnya nama bapak itu. tapi yang saya ingat, di belakang nama itu tertulis ...., Se.

tergerak oleh rasa penasaran, saya bertanya, "pak, Se itu sarjana ekonomi ya?"
"iya... saya dari Pancasila" jawab pak supir sambil tersenyum.

sepertinya bapak supir itu tahu bahwa saya mungkin akan lanjut bertanya mengapa ia tidak kerja kantoran atau kenapa ia menjadi supir taksi.
itulah sebabnya, bapak itu segera melanjutkan kalimatnya sebelum saya sempat bertanya.
"saya dulu ketja di asuransi 'dek. udah 20 tahun..."
"oh ya... uda banyak banyak pengalaman dong pak udah expert lah ya pak?" jawab saya dengan nada kaget (dan memang benar saya kaget mendengarnya).
"wah dek' udah busuk malah..." ia tertawa.
"yang namanya piagam tu udah menumpuk di rumah..." lanjutnya.

"trus kenapa ga dilanjutin pak?" saya memberanikan diri bertanya.
"yaaahhh... kantornya udah dijual sama yang punya." jawabnya lirih.

saya kontan melanjutkan, "kenapa ga jadi dosen aja pak?"
"ya... blom pernah kepikiran sih 'dek."

saya semakin bersemangat untuk meyakinkan pak supir bahwa dengan gelar itu dan pengalaman sebanyak itu, ia bisa saja menjadi dosen. toh sekarang bayak dosen yang belum S2 tapi berpengalaman yang diperbolehkan mengajar.

bapak supir kemudian tersenyum, "wah... nanti mungkin akan saya coba. trima kasih atas sarannya ya 'dek."

singkat cerita, taksi ini sudah hampir sampai.
pembicaraan terakhir yang saya ingat adalah bahwa bapak supir ini dulu SMA di 70.
"hebat dong pak!" sahut saya bersemangat. "saya aja dulu mau masuk situ tapi gagal..." saya melanjutkan dengan bersemangat.

"kiri ya pak..."
taksi sudah samapai di depan gang kosan saya.

sambil berjalan ke dalam kosan saya berpikir...
tadi itu sebenarnya kejadian biasa dengan percakapan biasa...

tapi saya belajar satu hal...

sebegitu tidak pastinya hidup sampai orang tidak pernah tau akan dibawa ke arah mana olehnya...
setiap hari... setiap jam adalah tentang ketidakpastian akan apa yang akan terjadi setelahnya...

bapak ini, saya rasa, mungkin pernah berharap...
mungkin pernah merencanakan...
menjalani masa tua sebagai seorang direktur...
atau memulai masa pensiunnya dengan bersantai di rumah karena kariernya begitu menanjak pesat sampai tidak perlu lagi bekerja...

tapi sebegitu tidak pastinya hidup...
banyak pilihan atau tidak punya pilihan lain tampak seperti sama saja...
toh tiap pilihan sebenarnya tidak ada yang menjanjikan sebuah kepastian...

yang saya tahu...
bapak ini pasti sudah memilih...
dan yang saya lihat...
bapak ini menjalani pilihannya dengan kerelaan hati dan semangat yang besar...

bapak ini pasti orang sukses... pikir saya...
karena kesuksesan tidak hanya bicara soal profesi...
kesuksesan bukan tentang uang di sana-sini...atau popularitas tinggi...

kesuksesan adalah tentang bagaimana seseorang menjalani setiap ketidakpastian dengan sebuah keyakinan...
dan bagaimana sebuah keyakinan membawanya kepada sebuah pilihan....
lalu bagaimana ia menjalani... dan berakhir di jalan yang sudah ia pilih...


Tidak ada komentar: