Minggu, 27 Desember 2009

Pemulung Kecil dan Momogi

Malam itu saya berjalan dari stasiun UI menuju margonda.
Anak laki-laki itu tiba-tiba muncul di samping saya. Tingginya kurang lebih sepinggang saya, membawa karung berisi botol bekas di punggungnya. Ia menunjuk-nunjuk lampu sorot yang ditembakkan ke langit. Wajahnya semangat sekali.
Sirkus, katanya.
Ya, memang sedang berlangsung sirkus meriah di jalan margonda selama beberapa minggu itu.

"kakak mau pulang ya?" tiba-tiba Ia bertanya.

"Iya." Saya tersenyum.

"kakak abis kerja ya?"

"enggak. aku abis kuliah"

"iya, kerja kan?"

Miris.
Dia pasti tidak pernah mengenyam apa yang disebut pendidikan.
Baginya, sekolah tidak ada bedanya dengan bekerja.
Baginya, mengumpulkan botol bekas tiap malam adalah bentuk lain dari pergi ke sekolah.

Dia berhenti beberapa langkah di belakang saya untuk mengorek tong sampah di toko.

Saya mampir di salah satu toko dan membeli momogi. Saya mau kasi dia momogi. Maklum, uang saya saat itu hanya bisa membeli itu.
Andai saya bisa mengajaknya nonton sirkus.

"Nih buat kamu. suka momogi ga?"

Anak itu tersenyum.
"Ga usah kak. aku masih kenyang kok. buat kakak aja."

"gak pa-pa. aku beli buat kamu. aku juga udah kenyang."

Selama beberapa detik terjadi adegan sodor-sodoran. Saya mau kasi, dia ga mau.
Dia bilang buat saya aja, saya bilang buat dia aja.

Akhirnya kalimat paling mengharukan keluar dari mulut Si Pemulung kecil itu.

"Buat kakak aja. kasian kan kakak jalannya masih jauh, momoginya buat kakak ngemil sepanjang jalan. Biar kakak ga laper di jalan..."

Saya diam. Dia diam.
Saya senyum, dia balas senyum.
Lalu Ia berjalan mendahului saya.

Semoga suatu saat nanti saya bisa bertemu dia lagi di acara sirkus.
Entah dia akhirnya punya cukup uang untuk membeli tiketnya.
Atau saya yang punya cukup uang untuk membelikan dia tiket.

Sabtu, 05 Desember 2009

Anak-Anak Pengamen Jalanan

hari ini saya pulang naik kereta ekonomi ke depok pukul 21.00 WIB. tidak jauh dari tempat saya duduk, ada segerombolan anak-anak pengamen jalanan yang duduk melingkar di lantai kereta api, kebetulan kereta tidak terlalu penuh.

mereka bernyanyi bukan untuk mengamen yang berakhir dengan mengedarkan kantong ke para penumpang. mereka hanya menyanyi sambil tertawa-tawa. lelah bernyanyi untuk orang lain atas nama perut, bernyanyi untuk hati terlihat lebih menyenangkan.

ada 2 orang yang main ukulele, ada yang main kecrekan khas pengamen, ada yang hanya tepuk tangan. yang pasti mereka semua menyanyikan lagu yang sama, berganti dari satu lagi ke lagu lain. mereka bernyanyi dari hati, dengan ekspresi yang berbeda dari ketika mereka bernyanyi lalu menyodorkan tangan dengan muka entah benar-benar sedih atau agar tampak sedih.

yang menarik, lagu-lagu yang dinyanyikan bukan lagu milik The Massive atau Hijau Daun atau Kuburan yang sering kita dengar. mereka menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri. lebih tepatnya hasil jeritan hati.

lagu tentang kebobrokan pemerintah, korupsi, hukum yang tidak adil, kemiskinan, demokrasi, diskriminasi di rumah sakit, sampai ada lagu yang khusus menceritakan keprihatinan terhadap Marsinah.

ada 1 lagu yang saya suka karena nadanya bagus dan liriknya catchy. kurang lebih seperti ini reff-nya.

"penjahat-penjahat kecil dihakimi, penjahat besar dilindungi.
aparat keparat, polisi bangsat.
jaksa dan hakim tai kucing."


mereka terlihat lelah setelah bekerja seharian. tapi lirik itu, mereka nyanyikan dengan suara lantang dan makian yang jelas berasal dari dalam hati.

Andai kata ada salah satu dari para Menteri yang tergerak merasakan sesaknya naik kereta api ekonomi untuk melihat mereka. andai kata ada salah satu pejabat pemerintah yang bersedia duduk di antara kami untuk mendengar mereka bernyanyi.

bernyanyi tentang kalian. bernyanyi tentang kita.
yang dalam segala kemegahannya masih berpikir untuk mengambil sepersekian sen milik negara untuk mereka.

Selasa, 01 Desember 2009

saya percaya surga dan neraka ada. tapi ada dimana??

kemarin malam bulan purnama terangnya minta ampun. saya iseng-iseng ke luar kamar dan lihat ke langit. awanya luar biasa bagus. abu-abu bertumpuk membentuk seperti karpet bulu yang luas. semakin diperhatikan, bentuknya semakin sering berubah. lama-lama jalinan karpet bulu tadi merenggang dan berjajar lagi menjadi bentuk lain di atas langit kelabu yang luas.

imaginasi saya mulai berputar-putar.
lalu dimana letaknya surga dan neraka?
kalau kita berdoa, ada kecenderungan untuk melihat ke atas, melihat ke langit.
Tuhan yang kita sembah dengan berbagai versi agama juga punya sebutan universal: YANG DI ATAS.

kira-kira dimana ya surga dan neraka itu?
di luar angkasa? di planet lain? di ujung tata surya? dimana?

saya pernah berpikir, jangan-jangan surga itu ya bumi kita ini.
makanya orang-orang ribut soal merawat bumi dari kerusakan.
karena ya tempat inilah yang akan jadi surga kita nanti.

terus neraka ada dimana?
kecenderungan pemahaman bahwa neraka itu letaknya di bawah.
jangan-jangan neraka juga sebenarnya ya di dasar bumi kita ini.

tapi kalau dipikir-pikir lagi, kiamat kan sepertinya ya kurang lebih bumi akan hancur lebur tuh.
berarti surga dan neraka tempatnya bukan di bumi.

atau bisa aja neraka itu planet mars dan surga planet eemm... apa lah.
tata surya, kata para ilmuan, adalah sebuah dimensi tanpa batas.
mungkin sebenarnya ada batasnya. lalu lewat dari batas itulah terdapat surga dan neraka. terdapat tempat tinggal Tuhan, di luar tata surya yang kita kenal.

dalam konstruksi pemikiran saya, surga mungkin dulu pernah ada di bumi. di suatu tempat entah dimana. manusia telah menjadi semakin jahat sehingga Tuhan memindahkannya, juga entah kemana.

lalu bagaimana dengan makhluk-makhluk lain di luar bumi, kalau memang benar ada. apakah mereka juga akan masuk surga atau neraka?
apakah kedua tempat itu telah menjadi konsensus umum di semua makhluk hidup, di bumi dan planet-planet lain?

apakah alien ada?
apakah alien mengenal mekanisme masuk surga atau neraka?

saya banyak membaca buku tentang orang-orang yang bersaksi pernah dibawa ke surga dan neraka. dulu juga pernah populer sebuah buku yang berjudul "Aku Pernah Mati" tentang seorang tentara sekarat, kemudian bertemu sinar terang yang ditafsirkan sebagai Tuhan dan dibawa ke surga serta neraka.

penggambaran mengenai dua tempat tadi di setiap buku kesaksian berbeda-beda.
apa mereka benar-benar dibawa ke sana atau tidak, juga tidak ada yang bisa menjamin kebenarannya.

dengan jutaan pertanyaan itu saya selalu punya keinginan.
seandainya Tuhan mengizinkan saya mati dan membawa saya ke surga dan neraka, lalu membuat saya hidup lagi untuk mensyukuri betapa berartinya hidup yang IA berikan.