hari ini saya pulang naik kereta ekonomi ke depok pukul 21.00 WIB. tidak jauh dari tempat saya duduk, ada segerombolan anak-anak pengamen jalanan yang duduk melingkar di lantai kereta api, kebetulan kereta tidak terlalu penuh.
mereka bernyanyi bukan untuk mengamen yang berakhir dengan mengedarkan kantong ke para penumpang. mereka hanya menyanyi sambil tertawa-tawa. lelah bernyanyi untuk orang lain atas nama perut, bernyanyi untuk hati terlihat lebih menyenangkan.
ada 2 orang yang main ukulele, ada yang main kecrekan khas pengamen, ada yang hanya tepuk tangan. yang pasti mereka semua menyanyikan lagu yang sama, berganti dari satu lagi ke lagu lain. mereka bernyanyi dari hati, dengan ekspresi yang berbeda dari ketika mereka bernyanyi lalu menyodorkan tangan dengan muka entah benar-benar sedih atau agar tampak sedih.
yang menarik, lagu-lagu yang dinyanyikan bukan lagu milik The Massive atau Hijau Daun atau Kuburan yang sering kita dengar. mereka menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri. lebih tepatnya hasil jeritan hati.
lagu tentang kebobrokan pemerintah, korupsi, hukum yang tidak adil, kemiskinan, demokrasi, diskriminasi di rumah sakit, sampai ada lagu yang khusus menceritakan keprihatinan terhadap Marsinah.
ada 1 lagu yang saya suka karena nadanya bagus dan liriknya catchy. kurang lebih seperti ini reff-nya.
"penjahat-penjahat kecil dihakimi, penjahat besar dilindungi.
aparat keparat, polisi bangsat.
jaksa dan hakim tai kucing."
mereka terlihat lelah setelah bekerja seharian. tapi lirik itu, mereka nyanyikan dengan suara lantang dan makian yang jelas berasal dari dalam hati.
Andai kata ada salah satu dari para Menteri yang tergerak merasakan sesaknya naik kereta api ekonomi untuk melihat mereka. andai kata ada salah satu pejabat pemerintah yang bersedia duduk di antara kami untuk mendengar mereka bernyanyi.
bernyanyi tentang kalian. bernyanyi tentang kita.
yang dalam segala kemegahannya masih berpikir untuk mengambil sepersekian sen milik negara untuk mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar