so this is what I'm doing with my life.
Re-define happiness.
Happiness is not about have a perfect life.
For me, it's about living a full life.
Happiness is not always about have someone to rely on when you need.
I think I just need to be thankful for wonderful people that God put around me...
Happiness is not always happy...
it's about what will I choose in the end...
And in what way I face my choice...
Happiness is not about get what I want...
I have to count what I've got along my life...
I'll smile because God has gave me a lot of great things in my life.
Happiness is not about what's my job...
It's about passion...
and find my purpose of life.
Happiness is not about color of my heart.
Is it blue? pink? red? black?
It's about how do I define the happiness itself.
Here I'm...
Re-define happiness.
I'll find my own happiness...
Selasa, 30 November 2010
Minggu, 28 November 2010
ah... kamu lagi
Pada titik tertentu, itu kamu. Aku belum beranjak dan rasanya kamupun masih berpijak. Masih kamu.
Lalu waktu menari lagi. berjalan dari satu masa ke masa lain, terbang maju dari hari, minggu dan bulan. Ada kalanya beberapa manusia, termasuk aku... memaksanya untuk mundur hingga dua, tiga, dua puluh jengkal ke belakang. sekedar untuk memuaskan diri dengan kejayaan lampau. Faktanya, sejauh jengkal dimana aku bisa memaksa waktu untuk melangkah ke belakang... aku ketemu kamu lagi. Masih kamu pada masa itu.
Lalu dengan kesal waktu akan berlari lebih kencang, sekedar untuk menyadarkan aku bahwa ia harus terbang, begitupun aku. Yang lebih menyebalkan adalah lagi-lagi aku melihat kamu dalam hitungan ratusan kilo meter di depan, di masa dimana waktupun belum sampai di sana. Paling tidak aku belum menemukan orang lain yang mungkin seharusnya ada di sana. Atau jangan-jangan pikiranku masih terbiasa untuk menempatkan kamu di sana?
Ngomong-ngomong soal waktu, ia ada di sini sekarang. Pada masa inipun, yang ada di sini... ya kamu. Rasanya aku pernah berharap andai pikiranku punya sayap selebar waktu supaya dia bisa terbang lebih jauh, lebih cepat. Cuma untuk keluar dari zona kamu. Cuma biar bisa berada terlalu jauh dari kamu.
Sahabat waktu, yang namanya ruang. Aduh, dia lebih parah lagi. Yang ini aku menyerah. Ruang tidak berpindah, tidak luwes seperti waktu. aku yang harusnya berpindah. tapi lagi-lagi masalah waktu. "Belum waktunya...", kata pikiranku. Bagaimana caranya aku main akal-akalan dengan si ruang ini. Biar dia nggak bisa mempertemukan aku sama kamu. Biar dia lupa kalau kamu ada di situ.
Selesai dengan permainan ruang dan waktu ini. Secara umum, toh hidup masih berjalan seperti biasa. Maka aku kembali lagi, ke realita. Masalahnya...
Ah... kamu lagi...
Lalu waktu menari lagi. berjalan dari satu masa ke masa lain, terbang maju dari hari, minggu dan bulan. Ada kalanya beberapa manusia, termasuk aku... memaksanya untuk mundur hingga dua, tiga, dua puluh jengkal ke belakang. sekedar untuk memuaskan diri dengan kejayaan lampau. Faktanya, sejauh jengkal dimana aku bisa memaksa waktu untuk melangkah ke belakang... aku ketemu kamu lagi. Masih kamu pada masa itu.
Lalu dengan kesal waktu akan berlari lebih kencang, sekedar untuk menyadarkan aku bahwa ia harus terbang, begitupun aku. Yang lebih menyebalkan adalah lagi-lagi aku melihat kamu dalam hitungan ratusan kilo meter di depan, di masa dimana waktupun belum sampai di sana. Paling tidak aku belum menemukan orang lain yang mungkin seharusnya ada di sana. Atau jangan-jangan pikiranku masih terbiasa untuk menempatkan kamu di sana?
Ngomong-ngomong soal waktu, ia ada di sini sekarang. Pada masa inipun, yang ada di sini... ya kamu. Rasanya aku pernah berharap andai pikiranku punya sayap selebar waktu supaya dia bisa terbang lebih jauh, lebih cepat. Cuma untuk keluar dari zona kamu. Cuma biar bisa berada terlalu jauh dari kamu.
Sahabat waktu, yang namanya ruang. Aduh, dia lebih parah lagi. Yang ini aku menyerah. Ruang tidak berpindah, tidak luwes seperti waktu. aku yang harusnya berpindah. tapi lagi-lagi masalah waktu. "Belum waktunya...", kata pikiranku. Bagaimana caranya aku main akal-akalan dengan si ruang ini. Biar dia nggak bisa mempertemukan aku sama kamu. Biar dia lupa kalau kamu ada di situ.
Selesai dengan permainan ruang dan waktu ini. Secara umum, toh hidup masih berjalan seperti biasa. Maka aku kembali lagi, ke realita. Masalahnya...
Ah... kamu lagi...
Kamis, 18 November 2010
maka keberi kamu nama... mimpi
suatu siang bolong terang-benderang...
hadir begitu saja...
seperti yang sebelum-sebelumnya...
suatu rutinitas nyata yang biasa...
muncul tiba-tiba...
tapi kali ini beda...
ada harapan membumbung yang lebih punya arti...
dalam hati, antara sampai atau tidak sampai...
antara mungkin, tidak mungkin...
satu, dua, tiga langkah tidak percuma...
ada kata-kata, ada makna...
satu, dua, tiga langkah ada rencana...
ada peristiwa, ada yang tercipta...
mungkin rasa, mungkin sekedar pelengkap cerita...
galau, sendu, hampa pada awalnya
tapi toh tetap ada yang kilasan bahagia
sebuah dunia menanti untuk dirangkai.
yang lainnya siap dibantai.
maka kuraup sisa kekuatan...
selesai.
senyum pasti, langkah b'rani dilebur bersama ide yang diagung-agungkan bernama optimisme.
meraih jalan dan lupakan.
yang di belakang biar di belakang.
tepuk tangan untuk keberanian.
satu, dua, tiga langkah...
SALAH.
remuk, redam, pilu, luruh, pedih, kusam, pudar...
dunia itu tidak pernah benar-benar ada.
dunia itu tidak di sana.
itu...
fana.
dimensi-dimensi terbentuk sendirinya.
tembok terbangun, manusia bangkit, cinta bersemi.
dunia terbentuk.
tapi bukan di duniaku.
aku melihat dengan jelas.
bayang-banyang tak pasti dan sinar kemilau palsu.
bulan dan matahari dan bintang...
tercetak dari imajiku sendiri.
dunia itu...
bagian dari serbuk-serbuk mimpi yang kususun rapi...
padatkan lalu awetkan...
hembuskan nafas dan hidupkan...
maka kuberi kamu nama... mimpi.
hadir begitu saja...
seperti yang sebelum-sebelumnya...
suatu rutinitas nyata yang biasa...
muncul tiba-tiba...
tapi kali ini beda...
ada harapan membumbung yang lebih punya arti...
dalam hati, antara sampai atau tidak sampai...
antara mungkin, tidak mungkin...
satu, dua, tiga langkah tidak percuma...
ada kata-kata, ada makna...
satu, dua, tiga langkah ada rencana...
ada peristiwa, ada yang tercipta...
mungkin rasa, mungkin sekedar pelengkap cerita...
galau, sendu, hampa pada awalnya
tapi toh tetap ada yang kilasan bahagia
sebuah dunia menanti untuk dirangkai.
yang lainnya siap dibantai.
maka kuraup sisa kekuatan...
selesai.
senyum pasti, langkah b'rani dilebur bersama ide yang diagung-agungkan bernama optimisme.
meraih jalan dan lupakan.
yang di belakang biar di belakang.
tepuk tangan untuk keberanian.
satu, dua, tiga langkah...
SALAH.
remuk, redam, pilu, luruh, pedih, kusam, pudar...
dunia itu tidak pernah benar-benar ada.
dunia itu tidak di sana.
itu...
fana.
dimensi-dimensi terbentuk sendirinya.
tembok terbangun, manusia bangkit, cinta bersemi.
dunia terbentuk.
tapi bukan di duniaku.
aku melihat dengan jelas.
bayang-banyang tak pasti dan sinar kemilau palsu.
bulan dan matahari dan bintang...
tercetak dari imajiku sendiri.
dunia itu...
bagian dari serbuk-serbuk mimpi yang kususun rapi...
padatkan lalu awetkan...
hembuskan nafas dan hidupkan...
maka kuberi kamu nama... mimpi.
Langganan:
Komentar (Atom)