Lama tak berjumpa halaman ini.
Blog pribadi.
sebuah hobi yang saya dedikasikan untuk diri sendiri.
Saya copywriter.
Pekerjaan saya menulis.
Hobi saya...salah satunya menulis.
Kata orang, hobi adalah sesuatu yang kita lakukan untuk kepuasan diri sendiri.
Bukan untuk orang lain, bukan juga untuk uang.
Semua tulisan di halaman blog ini adalah bagian dari hobi saya.
Sebagian besar tentang apa yang beterbangan di dalam kepala, ada juga tentang yang muncul di depan mata.
Tapi semuanya saya tulis karena saya ingin menulis.
Tanpa revisi berkali-kali dan tanpa komentar "bisa di-push lagi."
Ada yang baca ya bagus, tidak ada ya tidak masalah.
Ada yang bilang bagus, ada yang nggak suka ya sudahlah.
Yang jelas saya menikmati.
Saat hobi menjadi bagian utama dari pekerjaan saya, ternyata itu jadi masalah.
Saat saya remuk dan muak karena pekerjaan, saya butuh pelarian.
Sesuatu yang sama sekali bukan pekerjaan.
Biasanya liburan. Tapi liburan butuh uang, butuh persiapan dan yang paling penting...butuh izin cuti.
Saat satu-satunya pelarian adalah membenamkan diri dalam hobi, saya menemukan diri saya seperti bertemu lagi dan lagi dengan pekerjaan.
Iya...menulis itu yang saya maksud.
Saya seperti kehilangan pelarian, kehabisan hiburan.
Menulis harusnya jadi pelarian pertama saya.
Itu yang dulu terjadi selama bertahun-tahun. Lari dari kenyataan, dari kehidupan, dari apapun ke tulisan.
Sekarang bagaimana saya bisa lari dari menulis ke menulis lagi?
Itulah kenapa halaman ini lama kosong.
Kenapa kata-kata tidak lagi bisa bermetamorfosa jadi puisi atau sekedar keluhan hati.
Kenapa sayapnya hilang dan lupa caranya terbang.
Karena saya berhenti menulis untuk diri saya sendiri?
atau...
karena saya berhenti menulis tentang sesuatu yang saya sukai?
Senin, 30 September 2013
Jumat, 28 Juni 2013
Satu pelajaran lagi dari hewan. Raju.
Raju.
Bayi gajah yatim piatu yang tersesat di pemukiman warga di Aceh.
Sekali lagi alam semesta membawa saya pada sebuah kisah tentang hewan.
Dari iseng baca-baca timeline twitter, sampailah saya pada hash tag #saveraju.
Berselancar terus di dunia internet hingga terdampar di sebuah page FB berjudul Peduli Raju.
Di situlah saya bertemu Raju (lewat gambar dan kata-kata yang bertutur).
Umurnya masih 2 minggu saat ia dan kakaknya Raja tersesat di pemukiman warga. Raja tak sanggup bertahan, meninggalkan Raju sendirian tanpa susu dan jadi tontonan warga yang tak tahu bagaimana cara menyelamatkan hewan. Raju di ikat di pohon. Kurang gizi dan ketakutan.

Sekelompok relawan berjuang mencapai lokasi terpencil itu. Warga tidak mengizinkan Raju dibawa oleh dokter hewan tanpa uang tebusan yang mereka klaim atas rusaknya pekarangan saat anak-anak gajah ini datang.
Total biaya yang dibutuhkan untuk evakuasi adalah 15juta.
Saya tidak di sana, tidak melihat Raju langsung.
Tapi rasanya saya tidak bisa kalau tidak melakukan sesuatu.
Ada gerakan 1000untukRaju yang digalang relawan di Aceh.
Ada juga no.rek di spanduk Save Raju dan untungnya saya sempat membaca lebih jauh update di FB hingga menemukan sistem donasi yang lebih mudah. Landing page yang langsung terkoneksi dengan PayPal.
Tidak besar memang, donasi yang saya kirim untuk Raju.
Tapi saya kirim itu bersama harapan supaya Raju selamat.
Saya sempat cerita ke teman saya, Dini, tentang Raju. Dini tergerak untuk ikut menolong.
Sekali lagi, tidak besar memang apa yang kami berikan untuk Raju.
Tapi saya percaya, berapa pun yang orang-orang dimana pun berikan, semuanya teriring doa mereka untuk bayi gajah kecil Raju.
Hari ini saya buka update-nya lagi.
Donasi yang terkumpul berhasil memaksa warga melepaskan Raju.
Raju sekarang sudah sampai di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh dan bertemu keluarga barunya.

Sekali lagi hewan mengajarkan saya.
Selama ini saya menyaksikan begitu banyak orang jahat pada hewan. Pemilik yang menelantarkan anjing, orang utan yang dibunuh, upacara pengorbanan hewan dan masih banyak lagi.
Tapi saya melihat para relawan ini.
Dari berbagai daerah mereka berasal, mereka berkumpul demi Raju.
Keyakinan bahwa masih banyak manusia baik di bumi ini yang mau ikut membantu Raju dari jauh.
Keyakinan bahwa donasi akan terkumpul dari manusia yang (ternyata) masih peduli nasib hewan.
Keyakinan yang meyakinkan mereka untuk bergerak sampai ke tempat Raju.
Saya mulai yakin bumi masih punya harapan.
Masih ada cukup manusia yang kepeduliannya sampai di titik rela melakukan sesuatu untuk alam, untuk pohon-pohon, untuk para hewan.
Dari Raju saya belajar bahwa bahkan bayi hewan pun bisa bersuara sekeras itu dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
Begitu keras untuk memanggil para manusia yang masih berhati untuk berlari.
Penyayang hewan di luar sana. Siapa pun kalian, dimana pun kalian.
Salam kenal.
Percayalah alam ini bersuara. Pada waktu yang sudah dituliskan, kita akan terhubung satu sama lain untuk sebuah tujuan.
- Posted using BlogPress from my iPad
Bayi gajah yatim piatu yang tersesat di pemukiman warga di Aceh.
Sekali lagi alam semesta membawa saya pada sebuah kisah tentang hewan.
Dari iseng baca-baca timeline twitter, sampailah saya pada hash tag #saveraju.
Berselancar terus di dunia internet hingga terdampar di sebuah page FB berjudul Peduli Raju.
Di situlah saya bertemu Raju (lewat gambar dan kata-kata yang bertutur).
Umurnya masih 2 minggu saat ia dan kakaknya Raja tersesat di pemukiman warga. Raja tak sanggup bertahan, meninggalkan Raju sendirian tanpa susu dan jadi tontonan warga yang tak tahu bagaimana cara menyelamatkan hewan. Raju di ikat di pohon. Kurang gizi dan ketakutan.

Sekelompok relawan berjuang mencapai lokasi terpencil itu. Warga tidak mengizinkan Raju dibawa oleh dokter hewan tanpa uang tebusan yang mereka klaim atas rusaknya pekarangan saat anak-anak gajah ini datang.
Total biaya yang dibutuhkan untuk evakuasi adalah 15juta.
Saya tidak di sana, tidak melihat Raju langsung.
Tapi rasanya saya tidak bisa kalau tidak melakukan sesuatu.
Ada gerakan 1000untukRaju yang digalang relawan di Aceh.
Ada juga no.rek di spanduk Save Raju dan untungnya saya sempat membaca lebih jauh update di FB hingga menemukan sistem donasi yang lebih mudah. Landing page yang langsung terkoneksi dengan PayPal.
Tidak besar memang, donasi yang saya kirim untuk Raju.
Tapi saya kirim itu bersama harapan supaya Raju selamat.
Saya sempat cerita ke teman saya, Dini, tentang Raju. Dini tergerak untuk ikut menolong.
Sekali lagi, tidak besar memang apa yang kami berikan untuk Raju.
Tapi saya percaya, berapa pun yang orang-orang dimana pun berikan, semuanya teriring doa mereka untuk bayi gajah kecil Raju.
Hari ini saya buka update-nya lagi.
Donasi yang terkumpul berhasil memaksa warga melepaskan Raju.
Raju sekarang sudah sampai di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh dan bertemu keluarga barunya.

Sekali lagi hewan mengajarkan saya.
Selama ini saya menyaksikan begitu banyak orang jahat pada hewan. Pemilik yang menelantarkan anjing, orang utan yang dibunuh, upacara pengorbanan hewan dan masih banyak lagi.
Tapi saya melihat para relawan ini.
Dari berbagai daerah mereka berasal, mereka berkumpul demi Raju.
Keyakinan bahwa masih banyak manusia baik di bumi ini yang mau ikut membantu Raju dari jauh.
Keyakinan bahwa donasi akan terkumpul dari manusia yang (ternyata) masih peduli nasib hewan.
Keyakinan yang meyakinkan mereka untuk bergerak sampai ke tempat Raju.
Saya mulai yakin bumi masih punya harapan.
Masih ada cukup manusia yang kepeduliannya sampai di titik rela melakukan sesuatu untuk alam, untuk pohon-pohon, untuk para hewan.
Dari Raju saya belajar bahwa bahkan bayi hewan pun bisa bersuara sekeras itu dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
Begitu keras untuk memanggil para manusia yang masih berhati untuk berlari.
Penyayang hewan di luar sana. Siapa pun kalian, dimana pun kalian.
Salam kenal.
Percayalah alam ini bersuara. Pada waktu yang sudah dituliskan, kita akan terhubung satu sama lain untuk sebuah tujuan.
- Posted using BlogPress from my iPad
Selasa, 25 Juni 2013
Sekelebat pikiran seorang manusia tentang manusia
Hari ini jari saya membawa saya ke sebuah cerita.
Menjelajah dalam layar hitam dengan kekuatan koneksi ke seluruh penjuru dunia.
Ketik "kerusakan hutan Indonesia"
Klik "search"
Rentetan gambar yang memilukan. Mengerikan.
Kesekian "open new tab" membawa saya pada http://www.greenpeace.org/seasia/id/
Manusia. Sulit dipercaya mereka melakukan ini.
Ikuti perjalanan mereka. Pelajari kehancuran hutan dan tatap lekat-lekat setiap gambar yang diabadikan.
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/Hasil-Temuan-Perjalanan-Tim-Mata-Harimau/
Di depan gambar-gambar itu saya bertanya pada diri saya. Manusia.
Terheran-heran pada manusia.
Kita sedang merancang kiamat kita sendiri.
Bumi kian hari kian panas. Apa kita tidak sadar itu?
Banyak hewan terancam punah. Ah kita juga tidak peduli.
Bencana alam berkali-kali memperingatkan. Dan kita salahkan pemerintah, agama, alam lalu mulai tersungkur meminta ampun dosa.
Memang kalau bukan di bumi, kita mau tinggal dimana?
Mencoba menyelami pikiran mereka di sana. Yang entah atas nama apa melupakan entitas kita sebagai manusia.
Atas nama uang? Ya sepertinya.
Konversi hutan menjadi kebun oleh perusahaan kelapa sawit.
Pembabatan hutan oleh perusahaan kertas.
Apa jangan-jangan atas nama kita sendiri?
Permintaan kertas di pasaran meningkat. Kita kan yang pakai kertas seenaknya. Kita kan yang pakai tissue banyak-banyak. Iya...kita.
Hasil kelapa sawit juga kita yang beli, kita yang konsumsi.
Nanti kalau semuanya sudah habis dibabat.
Sudah tak ada hutan untuk resapan air.
Sudah tak ada pohon penangkal polusi.
Hewan-hewan mati.
Rantai makanan berjalan tidak seharusnya.
Bencana alam memporak-porandakan tempat tinggal.
Baru kita sujud dan menitikkan air mata.
Ya itulah kita. Manusia.
Saya tidak menghakimi. Toh saya juga manusia.
Tapi saya yakin...
Kita benar-benar sedang menuliskan cerita tentang kehancuran, yang kita buat sendiri alurnya dan tentukan sendiri sebab-akibatnya.
Iya...kita. Manusia.
Menjelajah dalam layar hitam dengan kekuatan koneksi ke seluruh penjuru dunia.
Ketik "kerusakan hutan Indonesia"
Klik "search"
Rentetan gambar yang memilukan. Mengerikan.
Kesekian "open new tab" membawa saya pada http://www.greenpeace.org/seasia/id/
Manusia. Sulit dipercaya mereka melakukan ini.
Ikuti perjalanan mereka. Pelajari kehancuran hutan dan tatap lekat-lekat setiap gambar yang diabadikan.
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/Hasil-Temuan-Perjalanan-Tim-Mata-Harimau/
Di depan gambar-gambar itu saya bertanya pada diri saya. Manusia.
Terheran-heran pada manusia.
Kita sedang merancang kiamat kita sendiri.
Bumi kian hari kian panas. Apa kita tidak sadar itu?
Banyak hewan terancam punah. Ah kita juga tidak peduli.
Bencana alam berkali-kali memperingatkan. Dan kita salahkan pemerintah, agama, alam lalu mulai tersungkur meminta ampun dosa.
Memang kalau bukan di bumi, kita mau tinggal dimana?
Mencoba menyelami pikiran mereka di sana. Yang entah atas nama apa melupakan entitas kita sebagai manusia.
Atas nama uang? Ya sepertinya.
Konversi hutan menjadi kebun oleh perusahaan kelapa sawit.
Pembabatan hutan oleh perusahaan kertas.
Apa jangan-jangan atas nama kita sendiri?
Permintaan kertas di pasaran meningkat. Kita kan yang pakai kertas seenaknya. Kita kan yang pakai tissue banyak-banyak. Iya...kita.
Hasil kelapa sawit juga kita yang beli, kita yang konsumsi.
Nanti kalau semuanya sudah habis dibabat.
Sudah tak ada hutan untuk resapan air.
Sudah tak ada pohon penangkal polusi.
Hewan-hewan mati.
Rantai makanan berjalan tidak seharusnya.
Bencana alam memporak-porandakan tempat tinggal.
Baru kita sujud dan menitikkan air mata.
Ya itulah kita. Manusia.
Saya tidak menghakimi. Toh saya juga manusia.
Tapi saya yakin...
Kita benar-benar sedang menuliskan cerita tentang kehancuran, yang kita buat sendiri alurnya dan tentukan sendiri sebab-akibatnya.
Iya...kita. Manusia.
Rabu, 12 Juni 2013
10km/jam
Dalam 10km/jam, ribuan manusia di jalanan ibukota menyimpan harapan untuk sampai di tujuan.
Setelah lelah dan asa yang setengah mati dikejar.
Meregang ambisi, bertaruh dengan garis mati.
Sekali lagi kota ini meminta sisa-sisa energi.
10km/jam ribuan manusia menanti.
Sebagian yang beruntung bisa sambil menikmati, entah alunan musik atau AC di mobil pribadi.
Yang lain mungkin sambil berdiri. Memeluk tas atau bergelantungan di angkutan.
Tapi semuanya disatukan oleh satu irama.
Menghembuskan nafas pasrah dalam koridor keluhan yang sama.
10km/jam saat manusia berhimpitan dalam sistem jam pulang kerja.
Kita, anda, mereka bergelut dalam penantian menuju rumah, tempat hiburan atau sekedar perhentian.
- Posted using BlogPress from my iPad
Setelah lelah dan asa yang setengah mati dikejar.
Meregang ambisi, bertaruh dengan garis mati.
Sekali lagi kota ini meminta sisa-sisa energi.
10km/jam ribuan manusia menanti.
Sebagian yang beruntung bisa sambil menikmati, entah alunan musik atau AC di mobil pribadi.
Yang lain mungkin sambil berdiri. Memeluk tas atau bergelantungan di angkutan.
Tapi semuanya disatukan oleh satu irama.
Menghembuskan nafas pasrah dalam koridor keluhan yang sama.
10km/jam saat manusia berhimpitan dalam sistem jam pulang kerja.
Kita, anda, mereka bergelut dalam penantian menuju rumah, tempat hiburan atau sekedar perhentian.
- Posted using BlogPress from my iPad
Minggu, 27 Januari 2013
Abu-abu merah jambu dan ketok palu.
Suatu sore ketika waktu merangkak lebih lama dari biasanya.
Jenuh dan tanda tanya malah muncul lebih cepat dari seharusnya.
Langit abu-abu dicoret pantulan merah jambu sehabis hujan semu.
Sebuah refleksi dari apa yang terjadi dalam kepala....
Yang belum usang walau telah lewat senja.
Dalam kepala, dia beringsut menjauh dari suara di luar sana.
Kembali ke sudut dan kembali ke persidangan.
Sidang oleh dirinya, untuk dirinya.
Kembali ditanya oleh hakim yang adalah hati dan pikirannya.
Terus digugat oleh ragu...
Tak punya jawaban bagai orang dungu.
Saksi-saksi bertebaran.
Sisa kemarahan dan lelah berkepanjangan bersaksi tentang gugatan untuk dirinya.
Dan ketika sang hakim bersiap mengetuk palu.
Hukuman untuknya sedang dipertimbangkan satu-satu.
Pelanggarannya adalah lupa pada dirinya yang dulu.
Berhenti saat yang lain berlari.
Alam pikiran abu-abu merah jambu.
Hakim akan mengetuk palu.
Dia itu aku.
- Posted using BlogPress from my iPad
Jenuh dan tanda tanya malah muncul lebih cepat dari seharusnya.
Langit abu-abu dicoret pantulan merah jambu sehabis hujan semu.
Sebuah refleksi dari apa yang terjadi dalam kepala....
Yang belum usang walau telah lewat senja.
Dalam kepala, dia beringsut menjauh dari suara di luar sana.
Kembali ke sudut dan kembali ke persidangan.
Sidang oleh dirinya, untuk dirinya.
Kembali ditanya oleh hakim yang adalah hati dan pikirannya.
Terus digugat oleh ragu...
Tak punya jawaban bagai orang dungu.
Saksi-saksi bertebaran.
Sisa kemarahan dan lelah berkepanjangan bersaksi tentang gugatan untuk dirinya.
Dan ketika sang hakim bersiap mengetuk palu.
Hukuman untuknya sedang dipertimbangkan satu-satu.
Pelanggarannya adalah lupa pada dirinya yang dulu.
Berhenti saat yang lain berlari.
Alam pikiran abu-abu merah jambu.
Hakim akan mengetuk palu.
Dia itu aku.
- Posted using BlogPress from my iPad
Langganan:
Komentar (Atom)