ada saat dimana kita punya awan abu-abu
tumpukan kegelisahan
bom kemarahan
serbuk iri beterbangan
pertanyaan tanpa jawaban
ketakutan yang menyusup pelan-pelan
ada saat dimana awan abu-abu luruh jadi hujan
gerimis basah
rintik yang lebur bersama bumi
bergabung dengan air lain, mengikuti gemericik yang membawanya entah kemana
tanpa direncanakan, ada saatnya awan abu-abu kita memilih untuk berteriak dengan gemuruh
tajam, keras
kilatan yang menyambar tanpa haluan
menyilet langit, memanggil badai tanpa peduli kehancuran
ada saat dimana senja terlalu indah
pagi terlalu cerah
dan awan abu-abu kita memutuskan untuk menggantung saja
menggelayut tanpa hujan, tanpa kilat
mengambang sampai angin mengusirnya pelan
...dan yang tersisa adalah kita menghela nafas lalu melanjutkan hidup.
Senin, 19 November 2012
Selasa, 11 September 2012
...then choose...
Choices...
Things that always there during your days, during your life.
Then choose!

Sadly you can't have it all.
So choose!
In fact that we're human and we have no privilege to run or even hide from those options.
Choose!
In the end, you won't regret anything...
Because everything has been written down by The Almighty Hand.
Even your choice, also has been written.
Then choose!
Whatever it is.
- Posted using BlogPress from my iPad
Things that always there during your days, during your life.
Then choose!

Sadly you can't have it all.
So choose!
In fact that we're human and we have no privilege to run or even hide from those options.
Choose!
In the end, you won't regret anything...
Because everything has been written down by The Almighty Hand.
Even your choice, also has been written.
Then choose!
Whatever it is.
- Posted using BlogPress from my iPad
Rabu, 05 September 2012
Aliranku fiksi

Aliranku fiksi.
Tak peduli tak nyata.
Tak peduli tak sarat makna.
Aliranku fiksi.
Hidup dalam abu-abu imajinasi...
Berkutat berkelebat di bayangan tidak pasti.
Tapi aliranku memang fiksi.
Dimana mimpi adalah bahan bakar pemutar pita cerita.
Melumat-lumat realita...
Dan tokoh-tokoh di dalamnya lupa eksistensi dirinya.
Sampai tinggal cerita.
Sampai tinggal alur dan kronologis yang diatur sedemikian rupa sehingga.
Begitulah aliranku fiksi.
Tanda tanya.
Tapi semua gambar yang tercipta di dalamnya jauh lebih nyata dari realita.

- Posted using BlogPress from my iPad
Menjelang 25
Tik tok tik tok...
Jam bergerak, waktu berlari...
Hari-hari lewat, bulan, tahun berdesak-desakan saling mendahului.

Dan sampailah saya akhirnya di sini.
Diharapkan atau tidak...
Ditunggu atau tidak
Senang, takut, ragu...
Titik dimana saya dituntut untuk berpikir ulang.
Tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Tentang waktu-waktu yang terjadi dan tak bisa kembali.
Juga tentang yang belum terjadi, yang akan terjadi.
Cita dan tujuan yang pernah tertulis di pikiran...
Yang sempat jadi janji, jadi sumpah untuk diri sendiri...
Dan sampailah saya di sini.
Di titik ini semua terhampar.
Yang lalu dan yang usai.
Yang diharapkan dan yang dinanti.
Terhampar di menjelang 25 ini.
Terhampar dan sayangnya tak bisa lagi disusun untuk digapai satu-satu.
Terhampar dan harus dipilih.
Dan keputusan besar yang harus saya ambil setelah ini hanya bisa membawa saya ke satu saja.
Sayangnya iya.
Takut.
Untuk pertama kalinya saya begitu takut.
Takut kehilangan sisanya.
Takut jadi begitu realistis.
Seumur hidup saya mati-matian jadi manusia realistis.
Jadi makhluk logis.
Bertahun-tahun saya mendorong diri saya untuk jangan takut pada risiko.
Risiko adalah takdir.
Dan manusia lahir untuk menjalani takdir.
Sepanjang perjalanan umur sampai menjelang 25...
Saya menjadi jenis spesies yang tahu benar apa yang saya mau.
Tapi di titik ini, saya berubah jadi manusia linglung.

Dan inilah saya.
Menjelang 25.
Berpikir tentang apa dan bagaimana.
Harus apa.
Mau apa.
Lalu apa?
- Posted using BlogPress from my iPad
Jam bergerak, waktu berlari...
Hari-hari lewat, bulan, tahun berdesak-desakan saling mendahului.

Dan sampailah saya akhirnya di sini.
Diharapkan atau tidak...
Ditunggu atau tidak
Senang, takut, ragu...
Titik dimana saya dituntut untuk berpikir ulang.
Tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Tentang waktu-waktu yang terjadi dan tak bisa kembali.
Juga tentang yang belum terjadi, yang akan terjadi.
Cita dan tujuan yang pernah tertulis di pikiran...
Yang sempat jadi janji, jadi sumpah untuk diri sendiri...
Dan sampailah saya di sini.
Di titik ini semua terhampar.
Yang lalu dan yang usai.
Yang diharapkan dan yang dinanti.
Terhampar di menjelang 25 ini.
Terhampar dan sayangnya tak bisa lagi disusun untuk digapai satu-satu.
Terhampar dan harus dipilih.
Dan keputusan besar yang harus saya ambil setelah ini hanya bisa membawa saya ke satu saja.
Sayangnya iya.
Takut.
Untuk pertama kalinya saya begitu takut.
Takut kehilangan sisanya.
Takut jadi begitu realistis.
Seumur hidup saya mati-matian jadi manusia realistis.
Jadi makhluk logis.
Bertahun-tahun saya mendorong diri saya untuk jangan takut pada risiko.
Risiko adalah takdir.
Dan manusia lahir untuk menjalani takdir.
Sepanjang perjalanan umur sampai menjelang 25...
Saya menjadi jenis spesies yang tahu benar apa yang saya mau.
Tapi di titik ini, saya berubah jadi manusia linglung.

Dan inilah saya.
Menjelang 25.
Berpikir tentang apa dan bagaimana.
Harus apa.
Mau apa.
Lalu apa?
- Posted using BlogPress from my iPad
Senin, 03 September 2012
Rumah (lagi)
Aku ingin memilikinya.
Satu saja.
Sebuah bangunan.
Sebuah tempat dimana keluarga bermula, katanya.
Denganmu aku bermimpi.
Berharap suatu hari bisa memiliki.
Satu saja.
Yang punya kita.
Denganmu aku belajar.
Apa itu realisasi.
Apa itu usaha setengah mati.
Untuk punya satu saja.
Satu yang milik kita.
Denganmu, kita membicarakannya berkali-kali.
Tak bosan, tak lelah, tak berhenti.
Sampai kita punya satu.
Satu yang adalah hasil dari gumpalan mimpi.
Denganmu, kita berputar-putar mencari.
Satu saja.
Satu yang kira-kira bisa kita miliki, suatu hari nanti.
Denganmu, kita melihat, membaca, membuka, menelaah.
Berjalan, berlari, berputar arah.
Berdoa agar tidak menyerah.
Susah.
Tapi ya memang beginilah.
Rumah.
Denganmu, kita bermimpi tentang rumah.

- Posted using BlogPress from my iPad
Satu saja.
Sebuah bangunan.
Sebuah tempat dimana keluarga bermula, katanya.
Denganmu aku bermimpi.
Berharap suatu hari bisa memiliki.
Satu saja.
Yang punya kita.
Denganmu aku belajar.
Apa itu realisasi.
Apa itu usaha setengah mati.
Untuk punya satu saja.
Satu yang milik kita.
Denganmu, kita membicarakannya berkali-kali.
Tak bosan, tak lelah, tak berhenti.
Sampai kita punya satu.
Satu yang adalah hasil dari gumpalan mimpi.
Denganmu, kita berputar-putar mencari.
Satu saja.
Satu yang kira-kira bisa kita miliki, suatu hari nanti.
Denganmu, kita melihat, membaca, membuka, menelaah.
Berjalan, berlari, berputar arah.
Berdoa agar tidak menyerah.
Susah.
Tapi ya memang beginilah.
Rumah.
Denganmu, kita bermimpi tentang rumah.

- Posted using BlogPress from my iPad
Senin, 20 Agustus 2012
Batas
Andai ada hidup yang tak kenal mati
Andai surga adalah surga tanpa neraka sebagai bandingannya
Andai bahagia adalah tunggal tanpa sedih saudaranya
Andai putih adalah segalanya tanpa setitik hitam
Andai abadi ternyata nyata tanpa fana
Andai bebas jadi sebebas-bebasnya
Andai tata surya luas tanpa ujung
Andai cakrawala lurus lebar melingkar membentang
Andai semua adalah sesuatu tanpa batas
Andai batas tak pernah lahir
Lalu darimana kamu tahu kamu ada, kalau tidak pernah ada tidak ada?
- Posted using BlogPress from my iPad
Andai surga adalah surga tanpa neraka sebagai bandingannya
Andai bahagia adalah tunggal tanpa sedih saudaranya
Andai putih adalah segalanya tanpa setitik hitam
Andai abadi ternyata nyata tanpa fana
Andai bebas jadi sebebas-bebasnya
Andai tata surya luas tanpa ujung
Andai cakrawala lurus lebar melingkar membentang
Andai semua adalah sesuatu tanpa batas
Andai batas tak pernah lahir
Lalu darimana kamu tahu kamu ada, kalau tidak pernah ada tidak ada?
- Posted using BlogPress from my iPad
Jumat, 10 Agustus 2012
Day Dreamer
Day dreamer woke up in the morning.
Still believe that she's sleeping.
Still believe she's dreaming.
Day dreamer keep moving...
Keep searching what she's looking for.
Day dreamer awake.
But she's still dreaming
Dreaming about reality that she's afraid to...
About nightmare when someday she has to wake up.
Still believe that she's sleeping.
Still believe she's dreaming.
Day dreamer keep moving...
Keep searching what she's looking for.
Day dreamer awake.
But she's still dreaming
Dreaming about reality that she's afraid to...
About nightmare when someday she has to wake up.
Kamis, 02 Agustus 2012
Selintas perenungan tentang jalan.
Jalan ini siapa yang tentukan?
Saya? Tuhan?
Jalan ini siapa yang pilih?
Ada keberuntungan, ada kesempatan...
Ada banyak unsur penentu jalan.
Ada pilihan, ada kemauan, ada halangan...
Semua itu siapa yang buat aturan?
Segenap alam semesta, sebuah kuasa tanpa tandingan...
Sanggupkah untuk dilawan?
Jalan ini, jalan itu, jalan lain siapa yang buat?
Kadang cobaan, kadang harapan...
Semua mengarah pada tujuan.
Tujuan yang mungkin akhir mungkin juga awal.
Tujuan yang sang pejalan pun tak tahu.
Mungkin tahu...
Ada yang bilang kalau dia yang tentukan,
Ada yang yakin kalau Dia yang putuskan.
Saya? Tuhan?
Jalan ini siapa yang pilih?
Ada keberuntungan, ada kesempatan...
Ada banyak unsur penentu jalan.
Ada pilihan, ada kemauan, ada halangan...
Semua itu siapa yang buat aturan?
Segenap alam semesta, sebuah kuasa tanpa tandingan...
Sanggupkah untuk dilawan?
Jalan ini, jalan itu, jalan lain siapa yang buat?
Kadang cobaan, kadang harapan...
Semua mengarah pada tujuan.
Tujuan yang mungkin akhir mungkin juga awal.
Tujuan yang sang pejalan pun tak tahu.
Mungkin tahu...
Ada yang bilang kalau dia yang tentukan,
Ada yang yakin kalau Dia yang putuskan.
Senin, 23 Juli 2012
Rumah
Katanya rumah adalah tempat dimana hati kita berada.
Aku punya pengertianku sendiri.
Rumah adalah tempat dimana aku menjadi aku.
Ruang putih yang riuh, deretan meja yang terisi, yang berantakan dan yang rapi, tumpukan kertas dan kursi-kursi berpenghuni...
Itulah rumahku.
Di tempat ini aku menjadi aku.
Dengan berbagai sisi dan pribadi, tapi selalu aku.
Aku yang percaya pada kegilaan hidup, pada mimpi
Aku yang jatuh cinta pada kata-kata
Aku yang pemarah, yang berambisi, yang haus prestasi, sampai aku yang pemalas dan aku yang lalai
Di sini, aku selalu menjadi aku.
Selaput yang melingkari tempat inilah yang membuatnya menjadi serupa rumah.
Suasana.
Atmosfer.
Para penghuninya yang sama gilanya denganku.
Para penghuni yang juga menjadi diri mereka sendiri.
Pertanyaannya adalah...
Ketika tempat ini tidak lagi di sini, masihkan ia menjadi rumah?
Atau ketika para penghuninya memutuskan untuk pergi, apa aku masih bisa menjadi aku?
Pertanyaan selanjutnya...
Kalau ia telah menjadi terlalu dingin untuk sebuah rumah...
Kalau energinya menipis, habis dibawa penghuni yang pergi...
Kalau cahayanya meredup, karena yang tersisa tidak lagi menjadi diri mereka...
Akan menjadi siapakah aku?
Akan menjadi apakah tempat ini, bagiku?
11 tahun
Aku menemukanmu.
Lucunya, tanpa sedikit pun pernah mencarimu.
11 tahun lalu, aku pernah menemukanmu.
Dalam wajah anak-anak...
Dalam tawa dan tangis yang ringan...
yang bahagia dan sedihnya meluap tanpa beban...
tanpa tuntutan tanggung jawab yang menahan.
Dalam bahasa sederhana. Suka.
Bukan cinta dengan bahasa yang berat.
Bukan cinta yang merongrong minta pembuktian akurat.
Bukan janji dan konsekuensi dan komitmen yang adalah milik orang dewasa.
Aku di masa kecil yang menatapmu dalam sorot mata yang berbeda.
Entah bagaimana konsep "berbeda" itu muncul.
Konsep rasa yang sederhana.
Sesederhana rasa senang saat kebetulan ditempatkan semeja denganmu...
Sesederhana tulisan polosku tentangmu di buku harian...
Sesederhana rasa sedih karena tahu harus berpisah denganmu di hari kelulusan.
Sesederhana aku suka kamu.
11 tahun lalu...
Begitulah caraku menemukanmu.
Dan hidup punya arusnya masing-masing bagi mereka yang masih mau melanjutkan perjudian penuh kejutan.
Arus yang mempertemukanku pada konsep lain yang lebih rumit.
Arus yang memaksa untuk mengerti rumus dan pelajaran yang lebih gila.
Dari mulai mengerti sampai tersakiti.
Dari hampir percaya sampai yakin itu tidak nyata.
Cinta.
Konsep suka milik orang dewasa.
Kamu pun menjalani tempaan yang sama.
Yang sarat makna...
Jatuh-bangun untuk tetap percaya ia ada.
Dan inilah kita...
11 tahun setelahnya.
Aku menemukanmu lagi.
Dalam bahasa yang kita sebut cinta.
Tatapan berisi sakit dan bahagia.
Melebur antara aneka rasa yang telah kita kecap dalam realita.
11 tahun. Aku. Kamu.
Sebuah cerita dimana arus yang berbeda bertemu di persimpangan yang sama.
Sekedar melihatnya sebagai kebetulan atau memberinya makna, begitulah hidup memberi pilihan.
Di persimpangan itu kita memilih.
Memilih untuk percaya,
Entah pada cinta atau pada kita.
Tapi kita memilih.
Sekali lagi melempar dadu di perjudian penuh kejutan.
Memilih untuk kamu dan aku...
Menjadi kita.
Selasa, 26 Juni 2012
Sampai 22
Aku jatuh cinta pada kata-kata seperti aku pernah jatuh cinta padamu
Begitupun mungkin akan kututup halaman cinta berjudul namamu dengan kata-kata
Sempat kutulis sederet kata untukmu di hari jadimu
22 judulnya
Dan kututup dengan ini...
"...22 adalah cerita kamu, aku dan entah apa yg akan hidup tawarkan untuk mengisi angka selanjutnya.
23, 24, 25 dan terus dimana kamu dan aku menjelma waktu.
Sampai saat dimana, bahkan kamu atau aku, bahkan kita tidak cukup layak untuk memilih.
Sampai aku siap hancur lagi. Sampai kamu sadar saatnya hancur."
...kalau mungkin kamu ingat.
Saat itu kutulis dengan segenap rasa tanpa terlintas akan berhenti di 22.
Ada banyak emosi yang terkumpul selama 22-mu...
yang kamu jajarkan dalam mistar 1 tahun, tertanda 25 sampai 25
Sebanyak apapun air mata dan tawa dalam mozaik 22 yang kamu bagi denganku...
Buatku, hasilnya tetap indah
Awal dan akhir yang tak terduga...
yang nyata dan yang tak terucap...
yang terlihat dan yang rahasia...
peristiwa yang berbicara, tatapan sarat makna dan beragam bentuk kata-kata...
Kita tahu bagaimana kita saling menulis setiap halaman cerita ini...
dan sama-sama tahu bagaimana kita mengakhiri...
Bagiku yang hidup dalam kata-kata,
Beginilah caraku membuatmu tetap ada...
Tetap abadi dalam buku cerita.
Tertanda 26 saat itu, waktu kamu memutuskan pergi...
Dan 26 hari ini setelah rampung kata-kata ini...
Aku pamit.
Supaya kamu bisa menulis cerita lain lagi
Supaya nanti kita bisa berbagi cerita masing-masing sambil tersenyum
tanpa ada yang tersakiti.
Tertanda, aku.
25 Juni 2011 - 26 Juni 2012
Selamat menulis cerita lagi :)
Begitupun mungkin akan kututup halaman cinta berjudul namamu dengan kata-kata
Sempat kutulis sederet kata untukmu di hari jadimu
22 judulnya
Dan kututup dengan ini...
"...22 adalah cerita kamu, aku dan entah apa yg akan hidup tawarkan untuk mengisi angka selanjutnya.
23, 24, 25 dan terus dimana kamu dan aku menjelma waktu.
Sampai saat dimana, bahkan kamu atau aku, bahkan kita tidak cukup layak untuk memilih.
Sampai aku siap hancur lagi. Sampai kamu sadar saatnya hancur."
...kalau mungkin kamu ingat.
Saat itu kutulis dengan segenap rasa tanpa terlintas akan berhenti di 22.
Ada banyak emosi yang terkumpul selama 22-mu...
yang kamu jajarkan dalam mistar 1 tahun, tertanda 25 sampai 25
Sebanyak apapun air mata dan tawa dalam mozaik 22 yang kamu bagi denganku...
Buatku, hasilnya tetap indah
Awal dan akhir yang tak terduga...
yang nyata dan yang tak terucap...
yang terlihat dan yang rahasia...
peristiwa yang berbicara, tatapan sarat makna dan beragam bentuk kata-kata...
Kita tahu bagaimana kita saling menulis setiap halaman cerita ini...
dan sama-sama tahu bagaimana kita mengakhiri...
Bagiku yang hidup dalam kata-kata,
Beginilah caraku membuatmu tetap ada...
Tetap abadi dalam buku cerita.
Tertanda 26 saat itu, waktu kamu memutuskan pergi...
Dan 26 hari ini setelah rampung kata-kata ini...
Aku pamit.
Supaya kamu bisa menulis cerita lain lagi
Supaya nanti kita bisa berbagi cerita masing-masing sambil tersenyum
tanpa ada yang tersakiti.
Tertanda, aku.
25 Juni 2011 - 26 Juni 2012
Selamat menulis cerita lagi :)
Kamis, 24 Mei 2012
Keluar!
di zona nyaman ini aku menerawang.
betapa tidak pastinya dunia di luar sana.
katanya hidup penuh tanda.
kalau memang tanda itu nyata dan aku benar saat menafsirkannya...
satu pertanyaan untuk alam semesta: Apa?
Sekalipun kenaifan akan selalu membawaku pada "Kenapa?"
dalam langkah gontai, jangankan aku berlari, berjalan saja ragu.
jangan-jangan aku bahkan hanya membatu.
tapi kalau memang tanda itu pasti dan bisa dimengerti...
alam semesta sedang mendorongku sedemikian rupa sehingga aku gerah berada di sini.
di tempat paling nyaman, tempatku nyaris berhenti.
dia atau Dia atau alam semesta berteriak.
"Keluar!", kata mereka.
sungguh, hampir pasti itu yang kudengar.
lewat apapun mereka telah memaksaku keluar dari zona ini.
aku dihantui, lebih menggetarkan dari ketidakpastian.
tergesa-gesa dan seperti dari segala arah.
"Keluar!" seolah ada di tiap kata aku membaca.
"Keluar!" seperti nyata pada apa yang kulihat.
"Keluar!"
"Keluar!"
"Keluar!"
alam semesta berteriak, mendesak.
Kalau benar ini tanda...
aku tersenyum, seperti biasanya.
dan alam semesta pun tahu apa jawabku selanjutnya.
betapa tidak pastinya dunia di luar sana.
katanya hidup penuh tanda.
kalau memang tanda itu nyata dan aku benar saat menafsirkannya...
satu pertanyaan untuk alam semesta: Apa?
Sekalipun kenaifan akan selalu membawaku pada "Kenapa?"
dalam langkah gontai, jangankan aku berlari, berjalan saja ragu.
jangan-jangan aku bahkan hanya membatu.
tapi kalau memang tanda itu pasti dan bisa dimengerti...
alam semesta sedang mendorongku sedemikian rupa sehingga aku gerah berada di sini.
di tempat paling nyaman, tempatku nyaris berhenti.
dia atau Dia atau alam semesta berteriak.
"Keluar!", kata mereka.
sungguh, hampir pasti itu yang kudengar.
lewat apapun mereka telah memaksaku keluar dari zona ini.
aku dihantui, lebih menggetarkan dari ketidakpastian.
tergesa-gesa dan seperti dari segala arah.
"Keluar!" seolah ada di tiap kata aku membaca.
"Keluar!" seperti nyata pada apa yang kulihat.
"Keluar!"
"Keluar!"
"Keluar!"
alam semesta berteriak, mendesak.
Kalau benar ini tanda...
aku tersenyum, seperti biasanya.
dan alam semesta pun tahu apa jawabku selanjutnya.
Selasa, 22 Mei 2012
Berpikir tentang Pikiran
Hari ini saya dedikasikan untuk sebuah kegiatan yang saya sebut berpikir.
Tapi bukankah setiap hari kita pun berpikir?
Konon katanya, pikiran adalah entitas hampir pasti yang menyatakan sesuatu itu manusia atau bukan.
Saya berpikir. Setiap hasta hidup saya, saya berpikir.
Tapi hari ini, kekuatan tanpa definisi yang disebut alam semesta menuntun saya untuk berpikir tentang pikiran itu sendiri.
Di tengah padatnya garis mati dan tuntutan arus uang dalam sekrup ekonomi yang saya gerakkan.
Atas nama profesi sekaligus hobi yang mengalir pada persendian jari-jari, setiap hari.
Saya mencari inspirasi.
Di tengah pencarian, saya terdampar di sebuah blog milik seorang teman.
Sesuatu dalam aliran pikirannya telah menghasilkan tulisan yang entah bagaimana menabrak realitas saya.
Tulisannya menyeret saya dari suatu tempat tanpa gravitasi dalam pikiran saya, kembali ke tanah, ke bumi tempat pikiran itu berdiri pasti.
Dan inilah saya, sesaat setelah dibenamkan dengan cukup menyakitkan ke dalam pikiran saya sendiri.
Sadar atau tidak, goncangan dan rasa kehilangan beberapa saat lalu telah membuat saya kehilangan pikiran.
Lupa bahwa ia punya tempatnya sendiri.
Lupa bahwa ia jelas-jelas bukan hati.
Lupa bahwa dia bisa saja mati, bahkan saat raga belum mati.
Lupa, dimana saya meletakannya.
Dan inilah saya. Hampir pasti sedang memikirkan pikiran.
Kenapa harus saya biarkan dia ada di neraka kalau saya bisa memilih untuk menempatkannya di surga?
Toh dia punya tempatnya sendiri.
Cuma sang empunya pikiran yang bisa menentukan dia ada dimana.
Senin, 19 Maret 2012
Ruang Putih, Aksen Merah
Bisa kurasakan ruang putih ini terengah-engah
Denyutnya melemah
Semangatnya? jangan ditanya... patah.
Penghuninya jengah.
Entah karena lelah atau hilang arah
Pemiliknya? kita semua tahu dia sedang marah
Mungkin karena satu per satu angkat kaki
Dengan langkah pasti berpindah ke ruang lain
Ruang kuning, ruang merah, ruang hijau dan ruang di luar ruang lingkup industri ini
Dan untuk itulah tulisan ini dibuat...
Untuk kami kami yang masih percaya diri untuk tidak melangkah pergi
Kami kami yang bisa saja kapanpun pergi...
Bulan ini, tahun ini, bulan depan, tahun depan...
Tapi kami masih di sini...
Dengan sisa pemikiran yang kami yakini.
Tapi tunggu sebentar...
Jangan salah menilai tulisan ini
Bukan karena aku peduli atau cinta atau dedikasi
Bagiku, ada yang salah...
Sekrup atau roda yang berjalan di luar kendali
Tapi siapa peduli
Akan kuangkat emasku nanti.
Entah di sini atau di ruang lain
Atau kalaupun tidak sama sekali, tak akan yang mati.
Denyutnya melemah
Semangatnya? jangan ditanya... patah.
Penghuninya jengah.
Entah karena lelah atau hilang arah
Pemiliknya? kita semua tahu dia sedang marah
Mungkin karena satu per satu angkat kaki
Dengan langkah pasti berpindah ke ruang lain
Ruang kuning, ruang merah, ruang hijau dan ruang di luar ruang lingkup industri ini
Dan untuk itulah tulisan ini dibuat...
Untuk kami kami yang masih percaya diri untuk tidak melangkah pergi
Kami kami yang bisa saja kapanpun pergi...
Bulan ini, tahun ini, bulan depan, tahun depan...
Tapi kami masih di sini...
Dengan sisa pemikiran yang kami yakini.
Tapi tunggu sebentar...
Jangan salah menilai tulisan ini
Bukan karena aku peduli atau cinta atau dedikasi
Bagiku, ada yang salah...
Sekrup atau roda yang berjalan di luar kendali
Tapi siapa peduli
Akan kuangkat emasku nanti.
Entah di sini atau di ruang lain
Atau kalaupun tidak sama sekali, tak akan yang mati.
Selasa, 31 Januari 2012
Waktu.
aku menulis waktu dengan kenangan.
memaknai setiap sentimeternya perlahan.
semakin pelan, semakin jauh dari akhir perjalanan..
memaknai setiap sentimeternya perlahan.
semakin pelan, semakin jauh dari akhir perjalanan..
Langganan:
Komentar (Atom)